Sabtu, 25 Februari 2023

Manusia seutuhnya?

Kali ini, izinkan aku untuk menuliskan hal-hal yang aku takutkan

berharap, setelah menulis ini kenyataan tak sebesar kehawatiranku


Akhir-akhir ini aku merasa ada sisi dalam diriku yang membuatku takut. Salah satunya, aku takut lupa untuk memfungsikan rasa empatiku. Aku seringkali bertanya-tanya pada diriku sendiri "apakah yang aku lakukan ini benar?" ketika aku mulai bisa memprioritaskan diriku dan tidak banyak memerdulikan perkataan orang lain yang membuatku tak nyaman. Dulu, hal itu sangat tidak mudah. aku orang yang selalu kepikiran dengan tindakan sekecil apapun. People pleasure, overthinking, khawatir berlebihan sempat sedikit banyaknya menjadi episodeku setiap hari bahkan setiap saat. sampai akhirnya aku tahu, aku kurang memiliki kesadaran terhadap diriku sendiri. Aku mulai lelah karena aku tidak bisa mengontrol pikiranku sendiri. Aku mulai belajar cuek pada hal-hal yang menyinggungku, cuek terhadap hal-hal yang bisa membuat semangatku melemah walaupun awalnya tidak sesempurna itu. Namun, lama kelamaan karakter cuekku mulai terbentuk, aku merasa pertahanan diriku semakin hari semakin kuat dan aku bisa merasakan dampak positifnya. Jarang ada hari dimana aku memiliki perasaan tak enak yang berlebihan, apalagi rasa bersalah yang berlebihan. 

Aku mulai merasa perlahan-lahan berhasil mengajak diriku bekerja sama untuk menjalani hari yang berat ini. Sampai pada dititik, dimana aku nyaman dalam kesendirian. Aku sangat bahagia ketika aku memiliki personal space dan hanya bisa berbincang dengan jujur dengan diriku sendiri. Dan itu bertahan lama sampai saat ini. Aku merasa aku bisa merasa segar kembali ketika aku bisa menghabiskan waktu sendiri, mendengarkan alunan musik dengan kedua earphoneku, pergi sendiri ke tempat-tempat dimana aku bisa menghirup udara segar, membaca buku di kamarku tanpa ada gangguan apapun. Namun, kembali pertanyaan itu muncul "apakah yang aku lakukanini benar?"

Disaat aku mulai sadar, aku mulai tidak peka pada sekitarku. Aku tidak lagi ikut merasakan kesedihan ketika orang lain menangis dan membawa kisahnya, Aku tidak lagi merasa harus banyak melakukan sesuatu ketika orang lain butuh pertolongan, aku tidak lagi membutuhkan orang lain untuk bisa menghibur diriku. Aku merasa semua manusia di dunia ini punya dunia mereka sendiri, dan tak perlu rasanya terlibat dalam kehidupan orang lain. 

Aku masih ada ketidak seimbangan dalam diriku. ketika aku terbiasa sendiri. Aku ingin mulai membuka percakapan lagi dengan orang lain dan membiasakan diri untuk bertemu orang-orang. Menyimpan sejenak kesibukanku yang selama ini membuatku pusing dan asik sendiri. Aku ingin bisa cerdas membagi waktu dan menyeimbangkan hidupku kembali. Aku ingin menjadi manusia seutuhnya yang diciptakan untuk bisa bermanfaat untuk sekitarnya. 

Menciptakan keseimbangan tentu bukan hal yang mudah. Ada saatnya aku butuh waktu untuk sendiri, ada saatnya juga aku harus hidup berdampingan dengan orang lain dan menjalani hidup ini bersama. 

Walaupun kita punya dunia masing-masing, namun pada nyatanya kita hidup di satu dunia. Dunia yang harus kita perjuangkan keseimbangannya dalam kebaikan. Seperti yang Allah inginkan, kita adalah khalifah fil ardh. yang punya misi untuk menjadikan dunia ini lebih indah dengan saling menasehati dan saling bermanfaat satu sama lain. Itulah manusia yang seutuhnya

Sabtu, 03 Desember 2022

Sudah sampai episode mana?

 

Bismillah...

Take a breath…

Sudah banyak episode yang Allah titipkan pelajaran di hidup ini. Hanya aja, aku masih terus belajar memahami setiap bentuk kebaikan dari-Nya. Sampai akhirnya “masyaAllah, Alhamdulillah, jadi ini yaa bentuk kasih sayang Allah…”

Hi, mungkin catatan ini akan berisi tentang diriku sendiri. Tentang opini dan juga bagaimana aku melihat diriku. (so, kalau sekiranya catatan ini tidak terlalu menarik untukmu, tak apa kamu boleh skip ke hal lain yang lebih bermanfaat yaa)

Alhamdulillah, sudah bertambah saja usiaku. Dan aku masih menjadi manusia yang lambat memahami semuanya. Tapi, aku sangat menikmati proses menjadi ‘manusia pencari makna’. Hmmm mulai darimana yaa..

As you know (buat orang yang mungkin lebih sering ketemu aku), aku (berhasil) jadi pribadi yang sudah mulai punya kemajuan untuk menyaring hal-hal yang harus dipikirkan. Ya, mengurangi hal-hal yang bisa bikin overthinking. Mulai dari kerjaan, tuntutan-tuntutan di luar kendali, omongan dan penilaian orang terhadap aku, dan manage expectations. Aku bisa agak bernafas lega karena akhirnya aku bisa ada dititik menjadi ‘nova’ yang sekarang walaupun sangat masih jauh dari baik. 

Dari mulai hal kerjaan, aku harus bener-bener bisa manage waktu agar tetep balance antara professional dan kehidupan pribadi sebagai manusia yang ‘waras’. Ada waktu aku bener-bener harus fokus menuntaskan pekerjaan dengan baik, mengerahkan pikiran dan tenaga ketika jam-jam kerja. Lewat itu, aku juga harus bisa punya waktu untuk sekedar bernafas dan mengupgrade diri dengan hal lain. Ditambah, menggunakan waktu untuk evaluasi ketimbang memikirkan hasil yang di luar kendali. Dan dalam hal ini aku masih belajar banget.

Kedua, tentang tuntutan-tuntutan di luar kendali. “Nov, kapan nikah?” waduh… klasik banget ngga sih? Dulu, pertanyaan ini mungkin ngga begitu berarti, hanya sekedar obrolan basa basi. Tapi, makin bertambahnya usia, ya, hal ini semakin aku pikirkan dan.. persiapkan. “Dia udah loh, kamu kapan nyusul?” wah nampaknya diri ini masih belajar untuk mengontrol “udah nov, ngga usah kekomporin sama orang, fokus memantaskan diri dulu, belajar banyak dulu dan tentunya luruskan niat”. Kita ga bisa kontrol omongan orang lain, tapi kita masih punya kendali lebih untuk memilih mana yang ingin kita dengar atau ngga. Tentang hal ini, mungkin Allah masih ingin aku belajar banyak sebelum aku bisa melangkah menuju kehidupan next chapter yang lebih menantang itu. Toh, jodoh dan tanggal nya ngga akan kemana.. iya ga?

Huft… dan lagi. Penilaian orang lain dan omongan orang lain terhadapku. Wah, jadi kebayang dulu kalau ada orang yang menilai aku buruk, kepikirannya lama banget. “emang aku gitu ya?” “aku tuh sebenernya ngga gitu loh” dan… pernyataan-pernyataan lainnya yang sebenernya hanya sibuk membuktikan diri ini ke orang lain. Padahal, penilaian orang lain itu ya di luar kendali kita. Kalau ada pepatah bilang “don’t judge a book by its cover” ya, cukup buat nasehat diri aja bukan buat maksa orang lain untuk pegang prinsip itu.

Terakhir, manage ekspektasi. Ini sih level paling sulit menurutku. Susah untuk melawan rasa-rasa manusiawi dalam diri yang sedikit-sedikit berharap, dan melenceng tanpa sadar berharap sama makhluk yang ternyata banyak kekurangan. Ngga dipungkiri hal ini adalah hal yang paling bisa banget bikin stress. Serius deh! Sampai ada dititik sadar, ternyata ekspektasi yang ngga di manage itu bisa bikin cape banget. Cape marah-marahnya, cape kecewanya, cape segala macemnya juga. Jadi, kalau punya harapan ya siapin juga untuk menerima hal terburuknya. Walaupun engga akan jadi otomatis ngga ngerasain kecewa, tapi seengganya luka hati ini tidak akan terlalu mengnganga lebar sampe akhirnya susah diobatin.

So, aku yakin, semua orang punya proses dewasa nya masing-masing. Dewasa yang ngga hanya sekedar usia, dewasa yang ngga hanya sekedar pemikiran teoritis, tapi jadi dewasa yang BIJAK. Itu adalah pelajaran seumur hidup! Semoga kita selalu jadi orang yang gampang nurut sama arahan Allah yaa, jadi orang yang ngga bebal dan bandel kalo dikasih pelajaran bahkan ujian hidup. Jadi manusia pencari makna yang cerdas dan juga gercep, biar bisa selamat dunia dan akhirat. Aamiin

Ah, ini hanya sekedar catatan kecil untuk sedikit merangkum proses belajarku selama ini. Walaupun seringkali masih mode-mode ga konsisten, jadi catatan ini bisa menjadi reminder kalau lagi “oleng”. 😊

Salam dari manusia pencari maknaa 💓

Kamis, 23 September 2021

NOTHING?

Yakin kamu ngga mencapai apa-apa selama ini?
Kamu yang belum mencapai apa-apa atau kamu yang punya standar pencapaian yang sebenernya tidak harus dijadikan sebuah ukuran? Atau seperti apa??


Aku selalu merasakan hangatnya percakapan dengan ayahku, walau sering kali terjadi. Cerita yang sama yang keluar dari mulut ayahku terus diulang. Ya, beliau selalu cerita tentang pencapaiannya selama ini. 
Ayahku bukan pejabat tinggi, ayahku hanya pensiunan pabrik. Tapi, dari beliaulah aku banyak belajar arti bersyukur.
Sejak kecil, aku selalu dididik dengan kesederhanaan. Sampai aku kesal karena selalu berbeda dengan orang lain.
Dimulai dari baju seragam SD-ku. Yang seumur-umur aku ngga pernah ngerasain rasanya beli seragam sekolah baru. Ibuku pasti membuat seragam itu sendiri, dengan jahitannya yang masih kurang rapi. Semakin bertambah usia, aku ngga lagi cuek sama seragamku yang berbeda. Dimulai dari model roknya, bahan kemeja putihnya yang ukurannya selalu kegedean. Mama bukannya ngga mau beliin seragam, tapi ia selalu punya prinsip selagi bisa menghemat dan mampu membuat itu sendiri yasudah, buat saja sendiri.
Dulu, ketika teman-temanku beli mainan, aku selalu diajak oleh ibuku untuk membuat Barbie Paper sendiri. Padahal harga Barbie Paper saat itu hanya tiga ratus rupiah. Tapi mama selalu bilang "bikin aja sendiri, mama bisa" walau akhirnya selalu di luar ekspektasi. Aku kecewa dengan Barbie Paper buatan ibuku yang sama sekali ngga keren.
Dulu, saat teman-temanku dengan mudahnya bisa minta jajan Snack Chiki ball. Aku malah dilarang untuk jajan Chiki, katanya takut batuk. Mending bikin cemilan sendiri.
Alhamdulillah, semua yang dilakukan ibuku bukan karna aku kurang mampu untuk membeli apa yang aku inginkan. Tapi hanya saja, aku diajak untuk lebih berpikir kreatif dan tidak tergantung pada uang.
Ya, begitupun ayahku.
Ruang tamu, menjadi saksi hangatnya perbicangan antara aku dan ayahku. Ayahku selalu cerita "dulu, bapak ngga kepikiran punya rumah. Tp Alhamdulillah luar biasanya kuasa Allah. Bapak yg cuma jadi karyawan pabrik bisa beli rumah disini" matanya berbinar melihat sekeliling ruang tamu.
Ayahku sudah puluhan tahun mengabdi di perusahaan yang bergerak di pabrik tekstil. Ia bekerja keras untuk menghidupi ke 5 anaknya. Didampingi oleh ibuku. Si menteri Keuangan yang luar biasa. 
Seperti yang aku pernah ceritakan di postinganku sebelumnya. Tentang motor.
Ayahku ngga punya motor sama sekali sampai sekarang. Sementara banyak diantara teman-temannya yang berlomba untuk cicil motor hanya untuk punya motor. Alhamdulillah ayahku sama sekali tidak pernah iri dengan orang yang sudah punya motor, kemana-mana pake motor. Ayahku dengan bahagianya selalu menggunakan sepeda Phoenix jadulnya untuk alat transportasi. Bahkan saat mengantar kakak ku ke sekolah SMAN 8 Bandung dimana banyak teman-teman kakakku yang diantar jemput pakai motor dan mobil. Kakakku tak pernah malu punya ayah yang sederhana.

Dulu, aku banyak tak sabar dengan didikan orang tua ku yang selalu mengajarkan ku hidup sederhana.
Kini, malam ini. Ntah apa yang membawaku pada rasa syukur yang teramat aku rasakan. Aku melihat sekeliling kamarku. Melihat lampu belajar, buku-buku, dan barang lainnya. Ya.. sekarang aku bisa dengan mudah membeli barang yang ingin ku beli.
"Mah pak... Sekarang Nova udah bisa belanja keperluan sendiri"
Dulu, untuk minta mainan pun aku sangat segan. Tapi sekarang untuk membeli apapun yang aku inginkan aku bisa wujudkan dengan kerja kerasku.
"Mah Pak, mamah sama bapak udah ngga perlu khawatir dan sedih saat ga bisa beliin Nova baju lebaran, sekarang Nova bisa belanja sendiri. Bapak sama mamah ngga perlu mikirin itu lagi" .....

Teruntuk diriku sendiri. Kamu sudah menyelesaikan banyak pencapaian dalam hidupmu. Kadang, percapaian tidak harus butuh pengakuan dari orang lain. Tidak perlu pernyataan dari orang lain bahwa kamu telah berhasil mencapai suatu hal.
Karena sesungguhnya, yang bisa merasakan pencapaian itu adalah kamu sendiri. Titiknya ada pada saat kamu begitu menghargai semua proses panjang yang sudah kamu lalui. Kamu hebat!

Sabtu, 21 Maret 2020

Oh, seperti ini makna berproses?



Dulu pandanganku terhadap dunia tak pernah se-detail saat ini. Saat aku remaja, pikiranku hanya berkutat di tugas-tugas sekolah, ekstrakulikuler, merawat pertemanan, ya hanya sebatas itu. Tapi setelah aku meinjakkan kaki di bangku perguruan tinggi pandanganku terhadap dunia jadi lebih terbuka. Lingkungan, kebiasaan, teman diskusi menggiringku untuk menatap lebih jauh sampai pada hal-hal terkecil yang ada di dunia ini.

Selalu ada hal menarik ketika aku berbincang dengan Ayahku. Kebetulan Ayah dan Ibuku hobi sekali berdongeng tentang masa mudanya. Sekilas aku berpikir, mungkin kelak ketika aku tua nanti, aku pun akan punya hobi yang sama,bercerita tentang perjalanan hidupku pada anak dan cucuku nanti. Hal itu membuat aku berpikir, aku harus membuat cerita indah, penuh drama namun happy ending dari sekarang agar nanti anak cucuku bisa mengambil pelajaran berharga tepat dari ibu atau neneknya ini. Dan aku selalu berpikir untuk selalu menuliskan setiap episode hidupku lewat tulisan-tulisan sederhanaku ini. Percayalah tidak ada satupun manusia di dunia ini yang kisah hidupnya tak punya tantangan, jatuh bangun, atau konflik yang menghiasi kisahnya. Se-datar apapun kisah hidup tetap punya jalan cerita.

“Alhamdulillah… Rumah ini sekarang makin sempit sama motor kamu” Bapak memulai pembicaraan di ruang tamu sambil tersenyum melihat ke arah motorku yang terparkir disana.
Motorku memang bukan motor baru, tapi mendapatkannya saja rasanya Bahagia dan aku sangat bersyukur. Sebelumnya aku sempat ragu, harga motor yang bisa mencapai belasan juta rupiah nampaknya membuat aku berpikir matematis “Bisa kebeli ngga ya?”. Ah benar saja, hitungan matematis manusia selalu melenceng kalau masalah rezeki. Karena banyak rezeki tak terduga yang Allah sudah siapkan.
“Maaf ya, bapak dulu belum bisa beliin apa yang kamu mau” Nadanya berubah menjadi sendu. Namun  tak lama beliau melanjutkan kembali obrolannya.

“Kamu tuh ngingetin bapak waktu dulu. Dulu ketika temen-temen bapak di kampung udah pada punya sepeda, bapak sendiri yang belum punya dan belum bisa sepeda. Temen bapak bilang “belajar dri, kan ada sepeda Pak de mu”, tapi bapak gak mau. Prinsip bapak, bapak pengen belajar pake sepeda bapak sendiri. Karena bapak takut kalau belajar pake sepeda orang, takut rusak. Dan alhamdulillah setelah nabung dan kumpul-kumpul uang akhirnya kebeli deh sepedah ini” Ia tertawa kecil sambil menunjuk sepeda phoenix berwarna hijau tua yang teparkir tepat di sebelah motorku. Sepeda ontel kesayangan Bapak yang sampai saat ini masih awet dan dirawat dengan sangat apik.

“Sama banget kayak kamu, dulu bapak pas udah punya sepeda ya belum bisa sepeda. Bapak sempet males belajar sepeda padahal udah punya sepeda. Tapi liat temen-temen bapak pada main pake sepeda, bapak jadi pengen bisa juga dan akhirnya bapak bisa. Wah belajarnya perjuangan sekali sampe sering nabrak pohon kelapa” Senyumnya masih tak lepas dari wajahnya. Ia selalu tersenyum dan tertawa kecil jika menceritakan masa lalunya.

Dulu waktu SMP aku selalu iri melihat teman-temanku yang selalu diantar jemput pakai motor oleh ayahnya. Sampai ketika sore menjelang maghrib tiba, hanya tersisa aku sendiri yang menunggu di depan sekolah. Niatnya aku ingin menemani temanku yang sedang menunggu orang tuanya menjemput. Namun saat temanku sudah dijemput, dan tinggal aku sendiri aku menangis sambil jalan menuju arah pulang. Ya, saat itu aku ingin seperti mereka.

Dulu juga semasa aku kuliah, aku selalu mencari pekerjaan sambilan untuk mengisi waktu dan mencari sumber uang untuk tabungan. Alhamdulillah saat itu keadaan ekonomi keluargaku baik-baik saja. Hanya saja kebetulan aku memang suka mengajar dan dulu aku ingin mengumpulkan uang untuk membeli handphone baru karena handphone-ku sudah lumayan ketinggalan jaman juga. Hehe

Selesai  mengajar sekitar maghrib atau bahkan ba’da isya. Malam itu aku menunggu angkot tujuan. Hampir setengah jam aku berdiri disana dan tak ada satupun Angkot yang muncul. Memang di daerah itu angkot semakin malam semakin sulit ditemui. Sementara jalanan tempatku berdiri sudah gelap. Lampu-lampu toko disana mulai dimatikan karena toko mendekati  jam tutup. Jujur saat itu aku sudah mulai takut. Aku berpikir “GImana kalo bener-bener ngga ada angkot?”. Kebetuan aku berdiri dipinggir jalan raya yang satu arah, jadi aku tak punya lagi pilihan lain selain menunggu angkutan umum yang lewat arah rumahku. Dan saat itu belum ramai Ojek Online seperti sekarang. Jadi benar-benar  tidak ada pilihan. Hatiku kembali menjerit “Coba aja punya motor, pasti daritadi aku udah pulang dan sampai rumah”. Aku menangis lagi, menangis karena takut sekaligus kesal.

Mengingatnya kadang membuatku sakit sekaligus membuatku sangat bahagia merasakan nikmat dari Allah. Sekarang aku lebih yakin dengan kata pepatah ini “Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Nikmat berproses. MasyaAllah… sungguh mahal harganya.

Ini bukan cerita tentang motor semata. Tapi lebih dari itu, aku belajar hal yang sangat berharga. Ketika kita berproses, kita sedang menyusun episode demi episode hidup dengan segala lika-likunya. Sebuah film dengan durasi yang singkat dan tak punya klimaks pada ceritanya rasanya akan membosankan bukan? namun ketika kamu punya rentetan kisah hidup yang menyimpan berjuta makna, lalu kamu perlihatkan pada dunia, percayalah akan ada banyak orang yang terobati dan terinspirasi untuk mengambil pelajaran berharga. Bahkan kisahmu bisa jadi vitamin yang membuat banyak orang menjadi kuat dan percaya diri pada hasil akhir yang baik jika mereka menikmati proses.

Untuk kita yang saat ini sedang ada dititik Lelah, merasa diri tak berharga, merasa ingin menyerah, merasa bosan. Bertahanlah dan yakin. Kisahmu hari ini adalah rangkaian dari film kehidupan terbaikmu. 😊



Sabtu, 01 Februari 2020

BELAJAR DARI RASA KECEWA


Biarkan jari jemari ini menari dulu di atas keyboard mencari kalimat awal untuk membuka cerita. Seringkali yang membuat aku bingung untuk berbagi adalah pengantar. Apa aku terlahir sebagai orang yang tidak punya seni untuk basa basi?
Beberapa kalimat sebelumnya sudah kususun untuk membuka ceritaku kali ini. Mencoba menulis dengan bahasa santai tapi rasanya itu bukan gaya menulisku. Lalu aku hapus lagi, aku ketik lagi, aku hapus lagi, lalu aku buat lagi. Semoga ini adalah tulisan final yang akan aku posting di blog naufa story.

Masih betah menjadi manusia pencari makna. Masih juga menjadi manusia yang ‘ngga mau rugi’. Setiap keadaan yang menimpaku harus berbuah pelajaran berharga untuk berproses menjadi dewasa. Menjadi hamba-Nya yang ‘mau diatur’ dan cerdas memahami setiap yang Dia hadirkan.
Beberapa orang yang “know me so well” pun sepertinya sudah terbiasa dengan seorang ‘aku’ yang dalam beberapa keadaan sulit dimengerti. Dan sepertinya tidak banyak orang yang bisa ‘hatam’ memahamiku. Ya bagaimanapun kita manusia yang punya keterbatasan mengerti keadaan satu sama lain. Tapi, terimakasih sebanyak-banyaknya untuk yang selalu mencoba memahami dan memberikan treatment terbaik untuk diri ini ketika benar-benar dalam keadaan ‘uncertain’.

Ketika dalam keadaan sangat ingin marah dan menangis cukup sulit untuk mengerti dan memahami diri sendiri. Jadi pada saat itu aku selalu fokus untuk mengungkapkan dan meluapkan segala ekspresi yang terpendam agar selesai terlebih dahulu. Ya selesai dengan emosi diri. Tidak perlu waktu berhari-hari untuk bangkit. Ketika dalam keadaan sulit, yang harus aku selalu sadari adalah aku harus belajar dan pelajaran itu sendiri lah yang akan membantuku bangkit.

Memang ketika dalam keadaan down, bosan, ingin marah aku harus banyak menghindar dari hal-hal yang mendistrak. Salah satunya handphone. Sering sekali, alih-alih mendapat empati dari orang lain eh malah kesal sendiri karena respon orang lain tidak sesuai dengan ekspektasi. Itu sih bukan karena orang lainnya yang kurang pandai memahami, tapi memang bukanlah waktu yang tepat untuk curhat pada orang lain.

Dan finally, setelah  semalaman aku fokus menghabiskan sisa-sisa emosiku, Subuhnya, ketika mengambil air wudhu emosi itu masih tersisa. Aku menangis saat air wudhu itu menyentuh wajahku yang masih terasa sembab karena menangis semalam. Setelah mengambil wudhu aku perbanyak istighfar, dan rasanya bacaan istighfar itu benar-benar menusuk ke dalam hati. Aku sangat merasa bersalah pada-Nya. Detik itu mulailah aku mecoba mengambil pelajaran berharga.

Rasa KECEWA. Rasa itulah yag sedari kemarin begitu mengusikku. Aku benar-benar tidak bisa menahan air mata ketika menyadari bahwa rasa kecewa itu hadir karena secara sadar ataupun tidak aku sedang berharap kepada selain Allah. Astaghfirullohaladzim..

Aku menghadapkan wajahku yang penuh rasa bersalah ini pada-Nya saat pertemuan di shalat subuh itu. Aku benar-benar merasa malu berhadapan dengan-Nya. Aku menangis sejadi-jadinya dan mengungkapkan rasa bersalahku. Sedang aku rasakan, betapa lemah, bodoh lagi hina diri ini. Ketika aku menyadari bahwa diri ini begitu sombong.

Kalau kamu pernah ngerasa sudah belajar mati-matian buat ngejar nilai bagus di ujian sekolah. kamu kecewa karena ternyata pada saat itu sebagian soal yang ada di kertas ujian adalah materi yang tidak kamu pelajari secara mendalam. Padahal sebelumnya kamu sempat mengira bahwa materi itu tidak akan muncul, namun nyatanya salah. Untuk menutupi kekurangpahamanmu terhadap soal itu, kamu tutupi dengan jawaban yang sangat panjang dan detail walaupun kamu sendiri tidak percaya diri apakah jawaban basa-basi itu benar atau tidak. Berharap ketika guru melihat jawaban yang cukup panjang, guru akan mengapresiasi usahamu dalam menjawab soal. Namun sayangnya, setelah ujian kamu mendapati nilaimu jauh di bawah ekspektasi, Kamu kesal sejadi-jadinya karena kamu merasa ikhtiar belajarmu selama ini tidak berujung perhargaan. Rasanya waktu yang banyak kamu korbankan untuk belajar itu sia-sia.

Kenapa kita bisa merasa sangat kecewa? Ternyata inilah pintu-pintu kekecewaan itu. Pertama, kita menganggap bahwa sumber kebahagiaan hanya ada pada NILAI UJIAN. Kita menaruh kebahagiaan pada hal duniawi. Kedua, kita hanya tau bahwa manusia lah yang memegang kendali atas kehabagiaan kita. Ketiga, kita secara tidak sadar sedang ‘menuhankan’ ikhtiar. Naudzubillahimindzalik..

Ketika kita sedang merasa kecewa, berarti kita sedang menaruh harapan pada yang lemah. Yang sesungguhnya sama sekali tidak bisa memegang kendali penuh atas apapun. Bukan hanya menaruh harapan pada orang lain, tapi bisa jadi kita sedang menaruh harapan pada diri sendiri. ‘Menuhankan ikhtiar’. Merasa sudah paling benar ikhtiarnya, merasa bahwa dengan ikhtiar yang maksimal akan mendatangkan hasil yang maksimal juga. Benar, kemampuan matematika manusia akan selalu meleset. Manusia selalu ingin balasan yang terlihat. Padahal jika kita tulus ikhtiar karena kita sadar bahwa ikhtiar adalah salah satu perintah Allah pada hamba-Nya untuk bisa menjemput hasil yang lebih baik, Allah akan menghadiahkan lebih dari apa yang kita bayangkan. Ya, pahala amal sholeh. insyaAllah..

Aku selalu ingat vitamin kata-kata yang guru ku bilang. “KUAT ATAU TIDAKNYA MANUSIA TERGANTUNG PADA SANDARANNYA”. Manusia adalah selemah-lemahnya makhluk. Untuk menjadi kuat maka kita harus bergantung dan bersandar pada yang MAHA KUAT.

Semoga ini bisa jadi pelajaran berharga bagi siapapun. Ketika kamu kecewa, luapkan dan ungkapkanlah dengan cara yang baik juga tepat. Setelah itu jangan berlama-lama mengambil pelajaran. Ingat bahwa KECEWA HANYALAH MILIK ORANG-ORANG YANG BERHARAP KEPADA SELAIN-NYA. Karena, jika kita berdo’a dan berharap hanya pada ALLAH yang punya kendali penuh menghendaki kebaikan pada kehidupan kita, maka kita akan selalu beruntung dan bahagia. Seperti kata Nabi Zakariya yang diabadikan dalam Al-Qur’an “…Dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada Engkau, Ya Rabb ku” (QS. Maryam: 4 – 6).



Senin, 02 September 2019

Berubah


Malam. Waktu yang paling tepat untuk berdialog dengan diri sendiri. Setelah seharian penuh pikiran dan fisik mengeluarkan energi untuk berjuang dalam kehidupan ini.
Sebenarnya aku selalu lebih leluasa mengungkapkan isi hati lewat pulpen yang beradu dengan selembar kertas kosong. Aku merasa diri ini bisa lebih jujur bahkan terkadang emosi yang tidak dirasakan sebelumnya tiba-tiba tertumpahkan saat pena itu menggariskan kata demi kata.
Aku baru menemukan lagi aku yang dulu. Aku yang dulu hampir setiap hari tak pernah absen menulis ceritaku di dalam sebuah diary. Aku merasa ketika aku menulis setiap kisah hidupku, aku merasa lebih hidup. Artinya tidak ada setiap detik kehidupanku yang tidak berkesan. Mau itu kesan baik atau buruk, setidaknya aku merasakan bahwa aku adalah pemeran utama dalam hidupku sendiri. Dan hal itu membuatku jauh lebih berarti.
Aku mencoba merangkai “aku yang dulu”. Seringkali aku terdiam, memikirkan apa yang hilang dari diriku. Ternyata jika direnungkan begitu, aku merasa makin banyak yang hilang dalam diriku. Salah satunya, hobi menulisku.
Ah, bukan puitis. Namun entah kenapa aku sulit sekali melepas gaya Bahasa menulisku yang seperti ini. Padahal jika di dunia nyata Bahasa ku biasa-biasa saja, tidak melulu formal seperti ini. Bagaimana Bahasa-ku di diary ku sendiri? Tentu tidak selalu seformal ini juga. Jadi, semoga pembaca bisa menikmati gaya bahasaku yang seperti ini yaa. Hehe
Waktu berjalan. Tapi kadang aku merasa sedang berada di sebuah video yang sedang di “pause” alias aku merasa aku tidak pernah pergi kemana-mana, merasa masih tetap di frame yang sama. Jika melihat banyak teman-temanku di luar sana yang punya kehidupan begitu dinamis. Ada yang sudah pindah kerja keluar kota, dinas ke luar provinsi setiap minggunya, ada yang sudah menikah, ada yang sudah punya anak, ada yang melanjutkan studinya ke jenjang S2. Yah! Sudah sampai sana saja aku melihat kehidupan mereka, jangan sampai kejauhan.
Tidak. Bukan sedang putus asa. Ingin tertawa saja melihat apa yang banyak terjadi di dunia ini. Seseorang tak mungkin sama dari waktu ke waktu. Perubahan itu pasti ada. Kalau sedang merenung menenangkan diri, terkadang pikiranku jauh menembus waktu. Bagaimana  jadinya jika kelak semua keponakanku nanti sudah beranjak dewasa, ada yang sudah masuk Sekolah Menengah Atas bahkan kuliah. Yah.. tidak ada lagi wajah-wajah lucu yang selalu ku update di status karena tingkahnya yang menggemaskan. Bagaimana nanti jika aku dan sahabat-sahabatku sudah saling berkeluarga dan punya anak-anak yang lucu? Membayangkan itu kadang membuatku Bahagia sekaligus sedih.
Satu hal yang tak akan pernah berubah di dunia ini adalah perubahan itu sendiri” Kata Dosenku yang sangat disegani oleh para mahasiswanya karena kecerdasannya plus ketegasannya. Pak Setya. Kata-kata itu menyadarkanku bahwa bagaimanapun keadaan mental kita, siap atau tidak siap kita harus bia menerima perubahan yang ada. Aku mulai terbiasa dengan kejutan-kejutan di dalam hidupku. Karena aku yakin semua sudah dituliskan-Nya dengan rapih. Perubahan tak selalu berada di luar kendali kita. Perubahan dalam diri, itu ada dalam genggaman kendali kita. Semua orang pasti berubah. Tak selamanya keadaan yang membuat semua orang berubah, tapi diri setiap orang juga yang menghendaki dan mengendalikan perubahan dalam dirinya.
Jangan menjadi orang yang hanya menonton perubahan orang lain. Jangan juga malah menjadi komentator perubahan orang lain. Ubahlah dirimu dengan caramu sendiri. Ubahlah dengan cara yang baik dan ke arah yang lebih baik pula. Agar suatu saat nanti, yang menjadi penonton di kehidupanmu bilang “waw… kamu benar-benar berubah” dengan senyuman penuh kekaguman.
Jika hari ini kamu merasa payah, masih ada kuasamu untuk merubah citra diri. Jika hari ini kamu merasa lemah, kamu masih punya kekuatan untuk membuat dirimu tegap dan lebih kuat lagi. Jika hari ini kamu merasa bodoh, kamu masih punya kendali untuk melatih dirimu menjadi pintar. Jadi.. jangan pernah merasa tertingal. Tapi buatlah dirimu merasa bahwa kamu terus berlari.


Selasa, 30 Oktober 2018

Memori yang Bersinar


Kelap kelip lampu Kota diiringi alunan romantis angin yang bertiup syahdu.  Kapas yang bergerombol menutupi sang Bulan membuatku terpana, sinar bulan terlihat sangat mempesona walau tak seterang tanpa awan hitam. membuat mataku  terperangkap dalam keindahan ciptaan-Nya. Entah mengapa tiba-tiba ada yang menggelitiki hatiku dan menyambung memori pada masa lalu yang sudah lama terlupakan. Tak lama dari itu aku menyadari, ternyata aku sudah beranjak dewasa. Roda hidup ini benar-benar berputar tanpa terasa. Revolusi semesta benar-benar nyata.

Kini kucoba pejamkan mata dan berkonsentrasi dalam khayalan yang perlahan menembus ruang dan waktu. Seketika sekitarku berubah pada keadaan lima belas tahun yang lalu, saat Naufa kecil menangis histeris kala ibunya melarangnya untuk bebas bermain di luar rumah. Pagar rumah pun sengaja digembok agar aku tidak bisa keluar bermain bersama teman-teman yang setiap hari selalu membuatku iri dengan kebersamaan mereka di taman bermain tepat di depan rumahku. Mereka tak berani mengajakku bermain karena tahu ibuku pasti akan melarangku. Ya, sudah tentu ibuku punya alasan kuat untuk memperlakukanku seperti itu. Aku adalah anak kecil yang nakal kala itu, selalu lupa waktu bila sudah asyik bermain dengan teman-temanku sampai-sampai dulu pernah aku bermain jauh, ibuku sangat khawatir hingga ia melaporkan kehilanganku pada Ketua RT setempat. Aku sama sekali tak menyadari itu kala ibuku bilang “Kamu itu kemana aja? Udah dicari-cari kemana-mana. Jangan main jauh-jauh! Ngga denger barusan namamu disebut-sebut di speaker Mesjid?”. Aku yang saat itu masih kecil dan hanya mampu mengartikan omelan ibuku adalah amarah dan rasa benci padaku, akhirnya aku menangis kencang dan tak peduli banyak warga yang memperhatikanku. Namun kini, rasanya senyumku sulit lepas dari ingatan masa lalu yang lucu itu.

Dan lagi, tak hanya sampai situ ulah si Naufa kecil yang nakal. Pernah pada saat usia 7 tahun, Aku diajak oleh teman-temanku bermain di sawah yang jaraknya lumayan jauh dari rumahku. Disana kami benar-benar menikmati kebebasan bermain. Naik kerbau, saling mendorong ke lumpur hingga akhirnya baju kami semua berubah warna menjadi coklat kehitaman. Anehnya aku yang biasanya takut untuk berulah dan berurusan dengan amarah ibuku saat itu tak memikirkan amarah ibuku nantinya setelah melihat kelakuan nakalku yang benar-benar menggemaskan itu. Benar saja, sesampainya di rumah aku habis-habisan dimarahi oleh ibuku bahkan sampai diguyur satu jolang air dingin. Tak dipungkiri, tangisanku meledak saat itu. Aku benar-benar takut air dingin, sangat takut, suasana kali itu benar-benar mencekam ditambah dengan melihat tatapan melotot ibuku yang tak henti-henti mengomeli diriku yang nakal itu.

Masih banyak kenakalan konyol yang dulu Naufa kecil lakukan, berenang di Bak mandi yang ukurannya hanya 1 x 1 meter, menusuk tangan temanku menggunakan pulpen hingga berdarah, menangis kencang pada saat aku ditinggal ibuku mengaji di rumah sendirian, mencibir kakakku di depan teman-temanku sampai akhirnya kembali aku diguyur dengan satu gayung air dingin pada saat duduk di sofa teras rumah, disusuli ibuku ketika aku berangkat mengaji tanpa mandi terlebih dahulu,  dan hal konyol lainnya. Semua benar-benar masih terekam indah dalam memori ini, Aku tak henti-hentinya bergumam, andai aku bisa kembali pada masa lalu tanpa beban yang saat ini menuntutku.

Lalu bagaimana nasib sahabat-sahabat masa kecilku sekarang? Sebagian dari kita telah melepas masa lajangnya bahkan sudah memiliki anak yang sudah masuk taman kanak-kanak, sebagian lagi kerja dan tanpa kabar. Kini kita semua memiliki kehidupan masing-masing. Apakah mereka masih ingat?

Masih ingatkah mereka kala kita benar-benar menjadi makhluk polos yang suara tawanya menggema di sepanjang gang tempat bermain? Petak umpet, lompat tali, aanyangan, kucing-kucingan, berburu lalat (hahaha), dan momen lain yang sudah jarang kita temui di zaman sekarang ini.

Masih ingatkah ketika dengan semangatnya kita teriakkan cita-cita kita dengan sekencang-kencangnya saat ibu guru bilang “Cita-cita kamu jadi apa?”, dengan lantang semua murid beradu menjawab “Dokter!”, “Polisi!”, “Tentara!”, “Guru”, “Insinyur!”.

Masih ingatkah ketika kita semangat bangun pagi tanpa menghiraukan rasa kantuk untuk pergi ke Sekolah dan bermain dengan teman-teman di Sekolah? Bersemangat walau uang jajan yang diberi hanya sedikit, yang penting bisa pergi ke Sekolah. Sangat menyayangkan hari jika tak masuk Sekolah kala itu. Walau di Sekolah kita malah lebih sering belajar mengejek sesama teman dengan panggilan nama ayahnya. Namun tak cukup sampai situ semangat kita masih membara, bahkan sepulang sekolah pukul 17:00 walaupun sangat lelah kita langsung bergegas mengaji ke masjid. Sungguh tak kenal lelah.
Sampai sekarang aku masih bingung, kemana semangat itu pergi? Apakah karena faktor usia hingga kita lupa bahwa sejak dari dulu kita punya impian yang seharusnya diimplementasikan pada saat ini? Ya. Usia sekarang. Kau ingat?

Kini aku sudah beranjak memasuki usia kepala dua. Sudah terbiasa dengan beban pikiran dan stress karena tuntutan lain, organisasi, perkuliahan, dan pengabdian. Seharusnya semangat untuk meraih mimpi semakin membara dibandingkan semangat si Naufa kecil dulu, karena, menginjak usia ini itu tandanya (seharusnya) kita lebih dekat dengan pintu peraihan mimpi.

Ini adalah waktu pembuktian dimana langkah kaki kita sejak kecil hingga sekarang adalah sebuah tahapan. bukan jalan hidup yang mengalir dan pasrah. Seharusnya kita sudah sampai ke tepian dan menuai kelapa segar di pinggir pantai. Namun ntah apa yang membuat perahu itu terombang-ambing hingga sampai sekarang kita masih jauh dari tepi laut. Maka, mendayunglah sehebat mungkin, semangatlah, mungkin usia kita tak akan lama. Jangan sampai mati di tengah perjalanan tanpa menorehkan sedikitpun prestasi yang tergenggam. Semangat!!! Inilah saatnya.

Tulisan ini hanya mengungkap segelintir memori yang bisa dijadikan pelajaran hidup untuk tidak meyia-nyiakan waktu yang ada. Untuk menyadarkan bahwa rasa malas itu seharusnya tak boleh ada dalam kamus kehidupan ini. Karena kita sudah terlanjur jauh hingga usia sekarang. “Kau boleh lelah. Tapi jangan berhenti, dayunglah dengan pelan, tak usah tergesa-gesa, yang penting kau maju ke depan walau sedikit”.

Tulisan ini terkhusus untuk menampar diriku sendiri yang tak boleh lengah (lagi), yang harus menggenggam mimpi yang sempat terlupakan, dan yang harus melangkah kuat untuk kebermanfaatan khususnya teruntuk diriku, dan keluargaku, umumnya untuk agama ini. Dan semuanya adalah untuk Allah. Ya, agar Allah Ridho dan mencintaiku,..

-Bandung, 5 Desember 2017, tertulis di ruang kelas Fakulltas yang kosong-

Senin, 29 Oktober 2018

Surat untuk Sang Pejuang


Kata pertama yang ingin aku sampaikan adalah.. MAAF
Maaf jika aku selalu menganggapmu tak ada.
Maaf bila kehadiranmu disadari hanya ketika kau melakukan kesalahan.
Maaf jika kehadiranmu selalu ku caci
Maaf jika hatimu terkadang sengaja kusakiti
Maaf jika dirimu sengaja ku tenggelamkan dalam kebahagiaan yang palsu
Maaf jika aku terlalu keras dan egois terhadapmu
Maaf jika dirimu selalu kuabaikan dan tak pernah kupedulikan
Maaf jika aku selalu membuatmu tampak bodoh
Maaf jika aku selalu terdiam saat kau benar-benar kesakitan karena tersakiti
Maaf jika dirimu selalu kupaksa untuk melakukan sesuatu yang ujungnya akan membuatmu menderita
Maaf jika aku selalu membuatmu menangis
Maaf jika tak sedikitpun kata TERIMA KASIH kuucapkan atas semua perjuangan dan pengorbananmu yang begitu besar.

Kini aku benar-benar ingin selalu merasakan kehadiranmu yang sangat amat berarti.
Tanpamu aku tak pernah hidup. Tanpamu aku tak akan melangkah sejauh ini.

Terimakasih untuk selalu menemani setiap langkah suka dan duka ku.
Terimakasih atas kerjasama mu yang hebat
Terimakasih atas ketegasan-ketegasanmu yang selalu menyelamatkanku
Terimakasih atas sikapmu yang berani untuk melangkah dan membantuku perlahan keluar dari zona nyaman dengan penuh susah payah
Terimakasih untukmu yang selalu berniat untuk berubah menjadi lebih baik
Terimakasih karena kau selalu menemani dan membantuku untuk selalu belajar arti kehidupan
Terimakasih atas prestasi yang pernah kau ukir dan membuatku bangga sampai saat ini
Terimakasih untukmu yang selalu sabar menghadapiku yang masih sangat labil dalam menghadapi situasi kehidupan
Terimakasih karena kau selalu mencoba memahami diriku
Terimakasih selalu menjadi alarm pengingatku
Terimakasih untukmu, Dan rasa Syukur yang ingin selalu kupanjatkan pada-Nya dalam situasi apapun
Mudah-mudahan kau bisa menerima permintaan maafku yang tulus ini. Karena aku menulisnya dengan penuh penyesalan dan juga dengan penuh harap untuk tidak melakukannya lagi.
Mungkin rasa maafku sudah sedikit terwakilkan dengan beberapa paragrap yang penuh arti ini. Namun sungguh, rasa Terimakasihku belum sepenuhnya terwakili sampai aku dapat memastikan bahwa dirimu akan BAHAGIA dan tersenyum kembali ketika mendapatkan kata TERIMA KASIH dariku ini.

Teruntuk dirimu, yang sedang mengetik kata-demi-kata di lembaran ini.
Teruntuk dirimu, yang selalu mencoba bangkit dari kesalahan-kesalahan yang membuatmu menyesal
Teruntuk dirimu, yang selalu ingin mencoba mencintai diri sendiri.
Teruntuk dirimu, yang air matanya tulus
Teruntuk dirimu. Aku menyayangimu. Aku mencintaimu. Aku membutuhkanmu.


Aku akan selalu menghargai setiap keputusan dan perjuanganmu.
Aku tak pernah ingin mengabaikanmu (lagi)
Aku akan selalu berusaha untuk kebahagiaanmu.
Ya.. dirimu. NOVALINA NUR AZIZAH

-Bandung, 29 Oktober 2018-
Dari: Kata hati



Jumat, 13 April 2018

Tentang Sebuah Rumah


Aku seolah terlempar jauh dari rumahku yang dulu. Rumah yang membuatku nyaman, hangat dan bebas menjadi diriku sendiri.
Namun suatu hari, ada yang membawaku terlalu lama bermain di luar rumah hingga untuk ingin pulang ke rumah pun rasanya sangat jauh, Bahkan aku lupa alamat rumahku sendiri. Aku butuh orang yang mengantarku pulang ke rumah dengan aman.

Kukira orang yang mengajakku bermain ke luar rumah akan mengantarkan aku pulang ke rumah, namun nyatanya ia malah semakin membawaku jauh dari rumah. Tempat tinggalku. Ia seolah menjanjikan rumah yang lebih indah yang akan temui nanti, namun nyatanya harapan menemukan rumah yang jauh lebih indah dan lebih baik itu tak juga berujung. Sampai di tengah jalan aku merasa, yang keluar dari mulutnya hanya omong kosong.

Setelah lama aku bersabar, akhirnya ia bisa menjawab keraguanku. Ia mengantarkanku pada sebuah rumah yang indah dan nyaman. Bahkan lebih indah dari rumahku yang dulu. Rumah itu wangi, terang dan mempesona. Indah sekali. Aku sangat betah dan tak mau keluar.

Namun setelah sekian lama aku mendiami rumah itu, sedikit demi sedikit aku mulai merasakan ketidak nyamanan. Orang itu membawa semakin banyak tamu ke rumahnya. Rupanya ia juga ingin orang lain melihat keindahan rumahnya. Alhasil, para tamunya itupun sama, merasakan kenyamanan seperti apa yang aku rasakan saat pertama kali diajak untuk tinggal di rumah itu.

Lama kelamaan aku merasa kecewa. Ku kira hanya aku yang akan menempati rumah indah itu. Ternyata salah, ia merasa tak puas jika hanya satu orang saja yang melihat keindahannya. Alhasil, rumah yang luas, indah dan nyaman itu perlahan menjadi tempat yang sempit, gelap dan pengap untukku. Aku ingin sekali keluar. Aku tak suka dengan tempat yang sempit. Aku tak suka dengan tempat yang ramai. Aku tak suka bila aku diacuhkan oleh tuan rumah yang sibuk menjamu tamunya yang lain. Aku harus pergi.

Namun apa yang terjadi? Sulit sekali menemukan pintu keluarnya. Sekali aku menemukan sebuah pintu, seolah pintu itu terkunci rapat. Rupanya tuan rumah tak ingin aku pergi meninggalkan rumah itu. Katanya aku adalah tamu yang paling spesial.
Aku kembali mengurungkan niat untuk keluar dari rumah itu, dan mencoba untuk lebih sabar menikmati keindahan rumah itu lebih lama. Tuan rumah kembali menjamu ku dengan hidangan yang lezat hingga aku tak lagi berpikir ingin keluar dari rumah itu.

Lagi-lagi aku kecewa. Ternyata tamu lain pun dijamu dengan spesial olehnya. Bahkan hidangannya lebih banyak dan lezat. Sehingga tamu lain semakin betah di dalam rumah itu.
Aku semakin muak dengan tempat yang sempit itu. Aku seolah dihiraukan begitu saja oleh tuan rumah. Aku merindukan rumahku yang dulu. Walau kecil namun rumahku lebih nyaman dan tidak sempit seperti rumah si tuan rumah itu.
Keesokan harinya aku memutuskan untuk benar-benar pergi. Aku ingin pulang. Kucoba mendekati pintu keluar. Karena aku benar-benar sudah tak betah, walaupun pintu itu terkunci rapat akan kudobrak sekuat tenaga. Biarlah tulangku remuk asalkan aku bisa keluar dari rumah itu dan tak ingin kembali lagi.

Namun kembali tuan rumah membujukku untuk tetap tinggal dan meminta maaf atas segala kesalahannya menghiraukanku. Ingin rasanya aku  berteriak di depan si tuan rumah. Apadaya, aku hanya mampu Teriak di dalam hati. “Hentikan! Tolong hentikan bujukkanmu! Aku benar-benar ingin pulang..” walau memang berat meninggalkan rumah seindah itu, aku harus benar-benar tegas untuk pulang sebelum rumah ini semakin penuh.

Kamis, 01 Maret 2018

Makhluk Pencari Makna

MAKHLUK PENCARI MAKNA

Seseorang tidak bisa menjadi PENULIS yang baik, tanpa menjadi PEMBACA yang baik
Seseorang tidak bisa menjadi PEMBICARA yang baik, tanpa menjadi PENDENGAR yang baik
Seseorang tidak bisa menjadi GURU yang baik, tanpa menjadi PEMBELAJAR yang baik

Makhluk pencari makna.. izinkan aku pinjam istilah ini dari seorang penyiar Radio yang menginspirasi di pagi hari. Walau afwan, saya tidak tahu namanya. Hehe.. semoga Allah memberikan keberkahan bagi hidupmu.

Jika benar dirimu makhluk pencari makna itu, seberapa banyak makna hidup yang telah dirimu dapatkan selama nafasmu masih berhembus tenang hingga saat ini?
Atau malah kita hanyalah “makhluk penumpang” atau “makhluk yang tidak diharapkan” oleh bumi untuk menginjakkan kaki di tubuhnya?

Bukanlah hal mudah untuk mencari setiap makna cinta dari-Nya dalam setiap detik hidup ini. Perlu jiwa yang kuat dan lapang untuk menerima segala maksud baik Allah, perlu otak cerdas yang bersinergi dengan hati untuk menerjemahkan semua peringatan lembut yang Allah tunjukkan. Sadarkah bahwa Setiap makna hidup yang ingin Allah ajarkan merupakan jawaban dari setiap do’a kita? Bukankah kita selalu mengucapkan dengan lirih “ihdinashiroothol mustaqiem”? ya.. Tunjukilah kami jalan yang lurus. Do’a yang selalu kita bacakan di setiap Sholat maupun di luar sholat. Allah selalu menjawab, Allah selalu mengabulkan permintaan kita yang satu itu. Tinggal kita membuka hati, pergunakan pikiran dan segala potensi kita untuk memahami apa yang diinginkan Allah terhadap kita.

Bagaimana kita bisa mengambil hikmah dari setiap keadaan
Bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari setiap kesalahan diri
Bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari setiap keadaan dan kesalahan orang lain

Dan.. bukan pula hal yang sulit untuk mencari makna cinta dari-Nya. Lihat! Renungkanlah, makna itu bertebaran dimana-mana. Ambilah! Karena makna kasih sayang Allah itu tak pernah habis. Tak lain untuk membuat kita menjadi sebaik-baik manusia yang diinginkan oleh Allah.

Untuk apa Allah memberikanmu kemampuan menulis?
Untuk apa Allah memberikanmu kemampuan berbicara?
Untuk apa Allah memberikanmu kecerdasan dan kecepatan berpikir?
Untuk apa Allah memberikan segala kemampuan yang ada dalam diri kita kalau bukan untuk memaknai cinta dari-Nya dan memanfaatkan segala kemampuan yang dimiliki untuk jalan kebaikan.
Bacalah dengan hati, setiap pesan cinta dari Allah dengan husnudzon

Dengarlah setiap pesan kebaikan yang Allah turunkan pada siapapun sebagai perantara kebaikan untuk perbaikan dirimu
Pelajarilah setiap pelajaran hidup yang Allah berikan lewat setiap keadaan
Maka kita akan bisa menjadi manusia seutuhnya seperti apa yang Allah inginkan.
Semoga Allah selalu memberikan kehidupan yang berkah bagi kita semua. Kehidupan yang tiada sia-sia tanpa sebuah pemaknaan baik yang sempurna.

Jumat, 19 Januari 2018

Potret Makna

Aku hampir tidak bisa menghitung berapa ribu kali langkah kakiku berjalan. Dari pagi hingga ba’da isya aku menelusuri setiap jalan yang aku yakini sebagai tempat pembelajaran hidup. Ada rasa tenang, hangat dan nyaman ketika aku bertemu orang-orang baru yang dihadirkan dihidupku disetiap harinya. Itu artinya, aku bisa banyak menemukan senyuman yang beragam dari orang yang berbeda-beda. Kau tahu rasanya? Ya tentu aku bahagia. Kebahagiaan sederhana yang tak bisa terukur oleh orang lain secara fisik, namun dapat dirasakan kenikmatannya oleh orang yang bersyukur dan terenyuh oleh kasih sayang Sang Penyayang.

Ketika gelap mulai menutup cahaya senja. Aku masih bergabung dengan para penumpang angkutan umum dengan segmentasi penumpang yang berbeda-beda. Dimulai dari ibu-ibu, wanita kantoran, hingga tiga gadis belia yang tengah asyik berbincang seputar kegiatan sekolahnya. Aku tak bisa menutup telinga untuk mendengar percakapan diantara ketiga gadis belia itu. Gadis yang duduk disebelahku nampaknya terlihat sedikit murung dan tak lama ia membuka pembicaraan dengan tema baru. Dia kehilangan sejumlah uangnya dan memikirkan utang-utangnya pada teman-temannya yang masih belum terbayar. “masih remaja, pikirannya sudah seberat orang dewasa memikirkan utang” gelitikku dalam hati, dan tak lama setelah itu, sementara aku sibuk memasang headset-ku ke handphone tiba-tiba pembicaraan mereka mulai beralih ke topik “si guru ganteng”, sampai-sampai mereka mengaku-ngaku “dia (guru ganteng) pacar aku”, “bebep aku”, begitu katanya. Kau tahu? itu percakapan yang sungguh membuatku geli, aneh, muak, dan miris. Portret remaja zaman sekarang. Ada apa dengan krisis rasa malu mereka? Walaupun itu hanya candaan tapi rasanya tidak etis saja terdengar oleh orang-orang dewasa yang mungkin pada saat itu ingin menggelengkan kepalanya karena ikutan miris.

Setelah turun dari angkutan umum, suasana maghrib dengan diiringi lantunan indah sang Muadzin yang beradu indah antara speaker mesjid yang satu dengan yang lain meramaikan perjalananku yang tengah sendiri. Menelusuri  jalan besar yang ramai kendaraan berlalu lalang. Langit berubah menjadi biru sendu. Aku langsung mematikan mp3 player –ku karena adzan sudah mulai berkumandang. Tas ku yang cukup berat membuat aku ingin segera sampai pada tempat tujuan, Mesjid.

Tepat pada saat semua jamaah masjid selesai menunaikan sholat maghrib berjamaah, seperti biasa aku melangkahkan kaki menaiki anak tangga Mesjid. Satu anak laki-laki ramaja dengan baju koko merah yang sering ia pakai dengan bawahan sarung, berjalan gontai dan pelan tepat dihadapanku. “Kok jalannya begitu? Abis disunat?” Guyon ku pada anak didikku yang cukup aktif hadir ke Mesjid itu. Ternyata kakinya terkilir. Namun luar biasanya (menurutku), walau kakinya sakit, ia tetap melangkahkan kaki ke masjid.

Seperti biasa kami semua berbincang-bincang di lantai dua Mesjid. Aku, rekanku, dan ke-enam anak didikku duduk melingkar. Sesekali melempar canda dan tawa yang tanpa sadar volume suara kita mengganggu bapak-bapak yang mungkin sedang asyik tadarus Al-Qur’an. Sesekali kami pun ditegur untuk mengatur volume suara. Hafalan surat Al-mulk terdengar indah menyentuh hati kala kami mencoba menghafalnya bersama-sama. Memori yang indah..

City lights terlihat sangat cantik dari jendela lantai dua masjid yang menghadapkan wajahnya pada pemandangan kota malam. Angin dingin yang mencoba menyapa dengan lembut keroyokan menghampiri lewat celah jendela yang kubuka. Adzan isya yang syahdu terasa menggema hingga ke langit. Suara yang mendamaikan..

Seusai sholat isya berjamaah, aku menghampiri Ibu Pur untuk mencium tangannya. Dan seperti biasa ia selalu mengajakku berbincang. Selalu ada atmosfir nyaman dan suasana hangat seorang ibu yang hadir dalam sosok Ibu Pur ini. Ia lalu menyentuh wajahku dan berkata “Neng sehat? Kok mukanya merah gitu?”, “masa sih bu? Oh iya mungkin kecapean aja hehe” Jawabku. seperti biasa ia selalu menanyakan “Tema hari ini apa?” (beliau menanyakan kegiatan mengaji remaja hari ini). “Oh sekarang sih lagi nyoba hafalan surat Al-Mulk bu”. “Oh pantesan tadi dari rumah ibu denger sayup-sayup bacaan Qur’an, ternyata lagi menghafal ya..”. ya, ruumahnya tepat ada di sebelah Mesjid, berdempetan.

Tak lama setelah perbincangan hangatku dengan Ibu Pur, kedua rekanku bergabung dengan obrolan kami. Cukup banyak Ibu Pur bercerita, yang isinya tidak jauh dari kajian islam secara tidak langsung. Ada yang menarik perhatianku sampai aku dan rekan (guru mengajiku) meneteskan air mata. Ibu Sur bercerita tentang sosok Almarhumah ibu dari guru ngajiku itu. Ia menceritakan kesan-kesannya mengenal almarhumah, ia bercerita pula, pernah anaknya menangis dan bilang padanya “Bu, ibu baik yang selalu memberikan aku uang dan permen sudah tidak ada (meninggal)” ya, yang dimaksud adalah ibu dari guru mengajiku yang akhlaknya masih dikenang hingga sekarang, kebaikan kecil yang menempel indah nan kuat dibenak anak Ibu Pur. masyaAllah.. kebaikan sekecil apapun ketika kita meninggal masih akan selalu terekam indah..

Banyak yang aku pelajari dari sosok Ibu Pur itu. Nasehatnya selalu teringat sampai sekarang, bahkan do’a-do’a yang dilontarkannya untukku. Ntah rasanya aku ingin tertawa geli dan bahagia saja ketika mengingat beliau pernah memberiku kajian tentang “Cinta” sampai beliau bercerita mengenai masa lalu indah ketika bertemu dan dilamar oleh suaminya sekarang. Lagi-lagi aku menemukan guru terbaik dalam hidupku. Alhamdulillah…

Di Mesjid itu banyak kenangan yang belum pernah terlupakan hingga sekarang, dari awal berdirinya aku mengikuti  metamorfosa Mesjid itu. Dari TK hingga menjadi mahasiswi semester 8 seperti sekarang, masjid itu masih kokoh berdiri bahkan makin banyak jamaahnya. Aku benar-benar menemukan rumah baru yang sangat indah dan nyaman. Aku bahagia, aku bersyukur. Allah memilihku untuk menjalani takdir yang kuhadapi saat ini. Banyak takdir yang tak mudah dijalani, namun disisi lain hadiah Allah akan setara atau bahkan melebihi beban yang ia turunkan sebagai ujian padaku. Ya Allah.. izinkan aku terus dalam agama-Mu dan tetap terus mencintai-Mu.. anugerah luar biasa.. 


Manusia seutuhnya?

Kali ini, izinkan aku untuk menuliskan hal-hal yang aku takutkan berharap, setelah menulis ini kenyataan tak sebesar kehawatiranku Akhir-akh...