Selasa, 30 Oktober 2018

Memori yang Bersinar


Kelap kelip lampu Kota diiringi alunan romantis angin yang bertiup syahdu.  Kapas yang bergerombol menutupi sang Bulan membuatku terpana, sinar bulan terlihat sangat mempesona walau tak seterang tanpa awan hitam. membuat mataku  terperangkap dalam keindahan ciptaan-Nya. Entah mengapa tiba-tiba ada yang menggelitiki hatiku dan menyambung memori pada masa lalu yang sudah lama terlupakan. Tak lama dari itu aku menyadari, ternyata aku sudah beranjak dewasa. Roda hidup ini benar-benar berputar tanpa terasa. Revolusi semesta benar-benar nyata.

Kini kucoba pejamkan mata dan berkonsentrasi dalam khayalan yang perlahan menembus ruang dan waktu. Seketika sekitarku berubah pada keadaan lima belas tahun yang lalu, saat Naufa kecil menangis histeris kala ibunya melarangnya untuk bebas bermain di luar rumah. Pagar rumah pun sengaja digembok agar aku tidak bisa keluar bermain bersama teman-teman yang setiap hari selalu membuatku iri dengan kebersamaan mereka di taman bermain tepat di depan rumahku. Mereka tak berani mengajakku bermain karena tahu ibuku pasti akan melarangku. Ya, sudah tentu ibuku punya alasan kuat untuk memperlakukanku seperti itu. Aku adalah anak kecil yang nakal kala itu, selalu lupa waktu bila sudah asyik bermain dengan teman-temanku sampai-sampai dulu pernah aku bermain jauh, ibuku sangat khawatir hingga ia melaporkan kehilanganku pada Ketua RT setempat. Aku sama sekali tak menyadari itu kala ibuku bilang “Kamu itu kemana aja? Udah dicari-cari kemana-mana. Jangan main jauh-jauh! Ngga denger barusan namamu disebut-sebut di speaker Mesjid?”. Aku yang saat itu masih kecil dan hanya mampu mengartikan omelan ibuku adalah amarah dan rasa benci padaku, akhirnya aku menangis kencang dan tak peduli banyak warga yang memperhatikanku. Namun kini, rasanya senyumku sulit lepas dari ingatan masa lalu yang lucu itu.

Dan lagi, tak hanya sampai situ ulah si Naufa kecil yang nakal. Pernah pada saat usia 7 tahun, Aku diajak oleh teman-temanku bermain di sawah yang jaraknya lumayan jauh dari rumahku. Disana kami benar-benar menikmati kebebasan bermain. Naik kerbau, saling mendorong ke lumpur hingga akhirnya baju kami semua berubah warna menjadi coklat kehitaman. Anehnya aku yang biasanya takut untuk berulah dan berurusan dengan amarah ibuku saat itu tak memikirkan amarah ibuku nantinya setelah melihat kelakuan nakalku yang benar-benar menggemaskan itu. Benar saja, sesampainya di rumah aku habis-habisan dimarahi oleh ibuku bahkan sampai diguyur satu jolang air dingin. Tak dipungkiri, tangisanku meledak saat itu. Aku benar-benar takut air dingin, sangat takut, suasana kali itu benar-benar mencekam ditambah dengan melihat tatapan melotot ibuku yang tak henti-henti mengomeli diriku yang nakal itu.

Masih banyak kenakalan konyol yang dulu Naufa kecil lakukan, berenang di Bak mandi yang ukurannya hanya 1 x 1 meter, menusuk tangan temanku menggunakan pulpen hingga berdarah, menangis kencang pada saat aku ditinggal ibuku mengaji di rumah sendirian, mencibir kakakku di depan teman-temanku sampai akhirnya kembali aku diguyur dengan satu gayung air dingin pada saat duduk di sofa teras rumah, disusuli ibuku ketika aku berangkat mengaji tanpa mandi terlebih dahulu,  dan hal konyol lainnya. Semua benar-benar masih terekam indah dalam memori ini, Aku tak henti-hentinya bergumam, andai aku bisa kembali pada masa lalu tanpa beban yang saat ini menuntutku.

Lalu bagaimana nasib sahabat-sahabat masa kecilku sekarang? Sebagian dari kita telah melepas masa lajangnya bahkan sudah memiliki anak yang sudah masuk taman kanak-kanak, sebagian lagi kerja dan tanpa kabar. Kini kita semua memiliki kehidupan masing-masing. Apakah mereka masih ingat?

Masih ingatkah mereka kala kita benar-benar menjadi makhluk polos yang suara tawanya menggema di sepanjang gang tempat bermain? Petak umpet, lompat tali, aanyangan, kucing-kucingan, berburu lalat (hahaha), dan momen lain yang sudah jarang kita temui di zaman sekarang ini.

Masih ingatkah ketika dengan semangatnya kita teriakkan cita-cita kita dengan sekencang-kencangnya saat ibu guru bilang “Cita-cita kamu jadi apa?”, dengan lantang semua murid beradu menjawab “Dokter!”, “Polisi!”, “Tentara!”, “Guru”, “Insinyur!”.

Masih ingatkah ketika kita semangat bangun pagi tanpa menghiraukan rasa kantuk untuk pergi ke Sekolah dan bermain dengan teman-teman di Sekolah? Bersemangat walau uang jajan yang diberi hanya sedikit, yang penting bisa pergi ke Sekolah. Sangat menyayangkan hari jika tak masuk Sekolah kala itu. Walau di Sekolah kita malah lebih sering belajar mengejek sesama teman dengan panggilan nama ayahnya. Namun tak cukup sampai situ semangat kita masih membara, bahkan sepulang sekolah pukul 17:00 walaupun sangat lelah kita langsung bergegas mengaji ke masjid. Sungguh tak kenal lelah.
Sampai sekarang aku masih bingung, kemana semangat itu pergi? Apakah karena faktor usia hingga kita lupa bahwa sejak dari dulu kita punya impian yang seharusnya diimplementasikan pada saat ini? Ya. Usia sekarang. Kau ingat?

Kini aku sudah beranjak memasuki usia kepala dua. Sudah terbiasa dengan beban pikiran dan stress karena tuntutan lain, organisasi, perkuliahan, dan pengabdian. Seharusnya semangat untuk meraih mimpi semakin membara dibandingkan semangat si Naufa kecil dulu, karena, menginjak usia ini itu tandanya (seharusnya) kita lebih dekat dengan pintu peraihan mimpi.

Ini adalah waktu pembuktian dimana langkah kaki kita sejak kecil hingga sekarang adalah sebuah tahapan. bukan jalan hidup yang mengalir dan pasrah. Seharusnya kita sudah sampai ke tepian dan menuai kelapa segar di pinggir pantai. Namun ntah apa yang membuat perahu itu terombang-ambing hingga sampai sekarang kita masih jauh dari tepi laut. Maka, mendayunglah sehebat mungkin, semangatlah, mungkin usia kita tak akan lama. Jangan sampai mati di tengah perjalanan tanpa menorehkan sedikitpun prestasi yang tergenggam. Semangat!!! Inilah saatnya.

Tulisan ini hanya mengungkap segelintir memori yang bisa dijadikan pelajaran hidup untuk tidak meyia-nyiakan waktu yang ada. Untuk menyadarkan bahwa rasa malas itu seharusnya tak boleh ada dalam kamus kehidupan ini. Karena kita sudah terlanjur jauh hingga usia sekarang. “Kau boleh lelah. Tapi jangan berhenti, dayunglah dengan pelan, tak usah tergesa-gesa, yang penting kau maju ke depan walau sedikit”.

Tulisan ini terkhusus untuk menampar diriku sendiri yang tak boleh lengah (lagi), yang harus menggenggam mimpi yang sempat terlupakan, dan yang harus melangkah kuat untuk kebermanfaatan khususnya teruntuk diriku, dan keluargaku, umumnya untuk agama ini. Dan semuanya adalah untuk Allah. Ya, agar Allah Ridho dan mencintaiku,..

-Bandung, 5 Desember 2017, tertulis di ruang kelas Fakulltas yang kosong-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Manusia seutuhnya?

Kali ini, izinkan aku untuk menuliskan hal-hal yang aku takutkan berharap, setelah menulis ini kenyataan tak sebesar kehawatiranku Akhir-akh...