Sabtu, 01 Februari 2020

BELAJAR DARI RASA KECEWA


Biarkan jari jemari ini menari dulu di atas keyboard mencari kalimat awal untuk membuka cerita. Seringkali yang membuat aku bingung untuk berbagi adalah pengantar. Apa aku terlahir sebagai orang yang tidak punya seni untuk basa basi?
Beberapa kalimat sebelumnya sudah kususun untuk membuka ceritaku kali ini. Mencoba menulis dengan bahasa santai tapi rasanya itu bukan gaya menulisku. Lalu aku hapus lagi, aku ketik lagi, aku hapus lagi, lalu aku buat lagi. Semoga ini adalah tulisan final yang akan aku posting di blog naufa story.

Masih betah menjadi manusia pencari makna. Masih juga menjadi manusia yang ‘ngga mau rugi’. Setiap keadaan yang menimpaku harus berbuah pelajaran berharga untuk berproses menjadi dewasa. Menjadi hamba-Nya yang ‘mau diatur’ dan cerdas memahami setiap yang Dia hadirkan.
Beberapa orang yang “know me so well” pun sepertinya sudah terbiasa dengan seorang ‘aku’ yang dalam beberapa keadaan sulit dimengerti. Dan sepertinya tidak banyak orang yang bisa ‘hatam’ memahamiku. Ya bagaimanapun kita manusia yang punya keterbatasan mengerti keadaan satu sama lain. Tapi, terimakasih sebanyak-banyaknya untuk yang selalu mencoba memahami dan memberikan treatment terbaik untuk diri ini ketika benar-benar dalam keadaan ‘uncertain’.

Ketika dalam keadaan sangat ingin marah dan menangis cukup sulit untuk mengerti dan memahami diri sendiri. Jadi pada saat itu aku selalu fokus untuk mengungkapkan dan meluapkan segala ekspresi yang terpendam agar selesai terlebih dahulu. Ya selesai dengan emosi diri. Tidak perlu waktu berhari-hari untuk bangkit. Ketika dalam keadaan sulit, yang harus aku selalu sadari adalah aku harus belajar dan pelajaran itu sendiri lah yang akan membantuku bangkit.

Memang ketika dalam keadaan down, bosan, ingin marah aku harus banyak menghindar dari hal-hal yang mendistrak. Salah satunya handphone. Sering sekali, alih-alih mendapat empati dari orang lain eh malah kesal sendiri karena respon orang lain tidak sesuai dengan ekspektasi. Itu sih bukan karena orang lainnya yang kurang pandai memahami, tapi memang bukanlah waktu yang tepat untuk curhat pada orang lain.

Dan finally, setelah  semalaman aku fokus menghabiskan sisa-sisa emosiku, Subuhnya, ketika mengambil air wudhu emosi itu masih tersisa. Aku menangis saat air wudhu itu menyentuh wajahku yang masih terasa sembab karena menangis semalam. Setelah mengambil wudhu aku perbanyak istighfar, dan rasanya bacaan istighfar itu benar-benar menusuk ke dalam hati. Aku sangat merasa bersalah pada-Nya. Detik itu mulailah aku mecoba mengambil pelajaran berharga.

Rasa KECEWA. Rasa itulah yag sedari kemarin begitu mengusikku. Aku benar-benar tidak bisa menahan air mata ketika menyadari bahwa rasa kecewa itu hadir karena secara sadar ataupun tidak aku sedang berharap kepada selain Allah. Astaghfirullohaladzim..

Aku menghadapkan wajahku yang penuh rasa bersalah ini pada-Nya saat pertemuan di shalat subuh itu. Aku benar-benar merasa malu berhadapan dengan-Nya. Aku menangis sejadi-jadinya dan mengungkapkan rasa bersalahku. Sedang aku rasakan, betapa lemah, bodoh lagi hina diri ini. Ketika aku menyadari bahwa diri ini begitu sombong.

Kalau kamu pernah ngerasa sudah belajar mati-matian buat ngejar nilai bagus di ujian sekolah. kamu kecewa karena ternyata pada saat itu sebagian soal yang ada di kertas ujian adalah materi yang tidak kamu pelajari secara mendalam. Padahal sebelumnya kamu sempat mengira bahwa materi itu tidak akan muncul, namun nyatanya salah. Untuk menutupi kekurangpahamanmu terhadap soal itu, kamu tutupi dengan jawaban yang sangat panjang dan detail walaupun kamu sendiri tidak percaya diri apakah jawaban basa-basi itu benar atau tidak. Berharap ketika guru melihat jawaban yang cukup panjang, guru akan mengapresiasi usahamu dalam menjawab soal. Namun sayangnya, setelah ujian kamu mendapati nilaimu jauh di bawah ekspektasi, Kamu kesal sejadi-jadinya karena kamu merasa ikhtiar belajarmu selama ini tidak berujung perhargaan. Rasanya waktu yang banyak kamu korbankan untuk belajar itu sia-sia.

Kenapa kita bisa merasa sangat kecewa? Ternyata inilah pintu-pintu kekecewaan itu. Pertama, kita menganggap bahwa sumber kebahagiaan hanya ada pada NILAI UJIAN. Kita menaruh kebahagiaan pada hal duniawi. Kedua, kita hanya tau bahwa manusia lah yang memegang kendali atas kehabagiaan kita. Ketiga, kita secara tidak sadar sedang ‘menuhankan’ ikhtiar. Naudzubillahimindzalik..

Ketika kita sedang merasa kecewa, berarti kita sedang menaruh harapan pada yang lemah. Yang sesungguhnya sama sekali tidak bisa memegang kendali penuh atas apapun. Bukan hanya menaruh harapan pada orang lain, tapi bisa jadi kita sedang menaruh harapan pada diri sendiri. ‘Menuhankan ikhtiar’. Merasa sudah paling benar ikhtiarnya, merasa bahwa dengan ikhtiar yang maksimal akan mendatangkan hasil yang maksimal juga. Benar, kemampuan matematika manusia akan selalu meleset. Manusia selalu ingin balasan yang terlihat. Padahal jika kita tulus ikhtiar karena kita sadar bahwa ikhtiar adalah salah satu perintah Allah pada hamba-Nya untuk bisa menjemput hasil yang lebih baik, Allah akan menghadiahkan lebih dari apa yang kita bayangkan. Ya, pahala amal sholeh. insyaAllah..

Aku selalu ingat vitamin kata-kata yang guru ku bilang. “KUAT ATAU TIDAKNYA MANUSIA TERGANTUNG PADA SANDARANNYA”. Manusia adalah selemah-lemahnya makhluk. Untuk menjadi kuat maka kita harus bergantung dan bersandar pada yang MAHA KUAT.

Semoga ini bisa jadi pelajaran berharga bagi siapapun. Ketika kamu kecewa, luapkan dan ungkapkanlah dengan cara yang baik juga tepat. Setelah itu jangan berlama-lama mengambil pelajaran. Ingat bahwa KECEWA HANYALAH MILIK ORANG-ORANG YANG BERHARAP KEPADA SELAIN-NYA. Karena, jika kita berdo’a dan berharap hanya pada ALLAH yang punya kendali penuh menghendaki kebaikan pada kehidupan kita, maka kita akan selalu beruntung dan bahagia. Seperti kata Nabi Zakariya yang diabadikan dalam Al-Qur’an “…Dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada Engkau, Ya Rabb ku” (QS. Maryam: 4 – 6).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Manusia seutuhnya?

Kali ini, izinkan aku untuk menuliskan hal-hal yang aku takutkan berharap, setelah menulis ini kenyataan tak sebesar kehawatiranku Akhir-akh...