Aku hampir tidak bisa menghitung berapa ribu kali langkah kakiku
berjalan. Dari pagi hingga ba’da isya aku menelusuri setiap jalan yang aku
yakini sebagai tempat pembelajaran hidup. Ada rasa tenang, hangat dan nyaman
ketika aku bertemu orang-orang baru yang dihadirkan dihidupku disetiap harinya.
Itu artinya, aku bisa banyak menemukan senyuman yang beragam dari orang yang
berbeda-beda. Kau tahu rasanya? Ya tentu aku bahagia. Kebahagiaan sederhana
yang tak bisa terukur oleh orang lain secara fisik, namun dapat dirasakan
kenikmatannya oleh orang yang bersyukur dan terenyuh oleh kasih sayang Sang
Penyayang.
Ketika gelap mulai menutup cahaya senja. Aku masih bergabung
dengan para penumpang angkutan umum dengan segmentasi penumpang yang
berbeda-beda. Dimulai dari ibu-ibu, wanita kantoran, hingga tiga gadis belia
yang tengah asyik berbincang seputar kegiatan sekolahnya. Aku tak bisa menutup
telinga untuk mendengar percakapan diantara ketiga gadis belia itu. Gadis yang
duduk disebelahku nampaknya terlihat sedikit murung dan tak lama ia membuka
pembicaraan dengan tema baru. Dia kehilangan sejumlah uangnya dan memikirkan
utang-utangnya pada teman-temannya yang masih belum terbayar. “masih remaja,
pikirannya sudah seberat orang dewasa memikirkan utang” gelitikku dalam
hati, dan tak lama setelah itu, sementara aku sibuk memasang headset-ku
ke handphone tiba-tiba pembicaraan mereka mulai beralih ke
topik “si guru ganteng”, sampai-sampai mereka mengaku-ngaku “dia (guru ganteng)
pacar aku”, “bebep aku”, begitu katanya. Kau tahu? itu percakapan
yang sungguh membuatku geli, aneh, muak, dan miris. Portret remaja zaman sekarang.
Ada apa dengan krisis rasa malu mereka? Walaupun itu hanya candaan tapi rasanya
tidak etis saja terdengar oleh orang-orang dewasa yang mungkin pada saat itu
ingin menggelengkan kepalanya karena ikutan miris.
Setelah turun dari angkutan umum, suasana maghrib dengan diiringi
lantunan indah sang Muadzin yang beradu indah antara speaker
mesjid yang satu dengan yang lain meramaikan perjalananku yang tengah sendiri.
Menelusuri jalan besar yang ramai kendaraan berlalu lalang. Langit
berubah menjadi biru sendu. Aku langsung mematikan mp3 player –ku
karena adzan sudah mulai berkumandang. Tas ku yang cukup berat membuat aku
ingin segera sampai pada tempat tujuan, Mesjid.
Tepat pada saat semua jamaah masjid selesai menunaikan sholat
maghrib berjamaah, seperti biasa aku melangkahkan kaki menaiki anak tangga
Mesjid. Satu anak laki-laki ramaja dengan baju koko merah yang sering ia pakai
dengan bawahan sarung, berjalan gontai dan pelan tepat dihadapanku. “Kok
jalannya begitu? Abis disunat?” Guyon ku pada anak didikku yang
cukup aktif hadir ke Mesjid itu. Ternyata kakinya terkilir. Namun luar biasanya
(menurutku), walau kakinya sakit, ia tetap melangkahkan kaki ke masjid.
Seperti biasa kami semua berbincang-bincang di lantai dua Mesjid.
Aku, rekanku, dan ke-enam anak didikku duduk melingkar. Sesekali melempar canda
dan tawa yang tanpa sadar volume suara kita mengganggu bapak-bapak yang mungkin
sedang asyik tadarus Al-Qur’an. Sesekali kami pun ditegur untuk mengatur volume
suara. Hafalan surat Al-mulk terdengar indah menyentuh hati kala kami mencoba
menghafalnya bersama-sama. Memori yang indah..
City lights terlihat sangat
cantik dari jendela lantai dua masjid yang menghadapkan wajahnya pada
pemandangan kota malam. Angin dingin yang mencoba menyapa dengan lembut keroyokan menghampiri
lewat celah jendela yang kubuka. Adzan isya yang syahdu terasa menggema hingga
ke langit. Suara yang mendamaikan..
Seusai sholat isya berjamaah, aku menghampiri Ibu Pur untuk
mencium tangannya. Dan seperti biasa ia selalu mengajakku berbincang. Selalu
ada atmosfir nyaman dan suasana hangat seorang ibu yang hadir dalam sosok Ibu
Pur ini. Ia lalu menyentuh wajahku dan berkata “Neng sehat? Kok mukanya merah
gitu?”, “masa sih bu? Oh iya mungkin kecapean aja hehe” Jawabku. seperti biasa
ia selalu menanyakan “Tema hari ini apa?” (beliau menanyakan kegiatan mengaji
remaja hari ini). “Oh sekarang sih lagi nyoba hafalan surat Al-Mulk bu”. “Oh
pantesan tadi dari rumah ibu denger sayup-sayup bacaan Qur’an,
ternyata lagi menghafal ya..”. ya, ruumahnya tepat ada di sebelah Mesjid,
berdempetan.
Tak lama setelah perbincangan hangatku dengan Ibu Pur, kedua
rekanku bergabung dengan obrolan kami. Cukup banyak Ibu Pur bercerita, yang
isinya tidak jauh dari kajian islam secara tidak langsung. Ada yang menarik
perhatianku sampai aku dan rekan (guru mengajiku) meneteskan air mata. Ibu Sur
bercerita tentang sosok Almarhumah ibu dari guru ngajiku itu. Ia menceritakan
kesan-kesannya mengenal almarhumah, ia bercerita pula, pernah anaknya menangis
dan bilang padanya “Bu, ibu baik yang selalu memberikan aku uang dan permen
sudah tidak ada (meninggal)” ya, yang dimaksud adalah ibu dari guru mengajiku
yang akhlaknya masih dikenang hingga sekarang, kebaikan kecil yang menempel
indah nan kuat dibenak anak Ibu Pur. masyaAllah.. kebaikan sekecil apapun
ketika kita meninggal masih akan selalu terekam indah..
Banyak yang aku pelajari dari sosok Ibu Pur itu. Nasehatnya selalu
teringat sampai sekarang, bahkan do’a-do’a yang dilontarkannya untukku. Ntah
rasanya aku ingin tertawa geli dan bahagia saja ketika mengingat beliau pernah
memberiku kajian tentang “Cinta” sampai beliau bercerita mengenai masa lalu
indah ketika bertemu dan dilamar oleh suaminya sekarang. Lagi-lagi aku
menemukan guru terbaik dalam hidupku. Alhamdulillah…
Di Mesjid itu banyak kenangan yang belum pernah terlupakan hingga
sekarang, dari awal berdirinya aku mengikuti metamorfosa Mesjid itu. Dari
TK hingga menjadi mahasiswi semester 8 seperti sekarang, masjid itu masih kokoh
berdiri bahkan makin banyak jamaahnya. Aku benar-benar menemukan rumah baru
yang sangat indah dan nyaman. Aku bahagia, aku bersyukur. Allah memilihku untuk
menjalani takdir yang kuhadapi saat ini. Banyak takdir yang tak mudah dijalani,
namun disisi lain hadiah Allah akan setara atau bahkan melebihi beban yang ia
turunkan sebagai ujian padaku. Ya Allah.. izinkan aku terus dalam agama-Mu dan
tetap terus mencintai-Mu.. anugerah luar biasa..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar