Sabtu, 03 Desember 2022

Sudah sampai episode mana?

 

Bismillah...

Take a breath…

Sudah banyak episode yang Allah titipkan pelajaran di hidup ini. Hanya aja, aku masih terus belajar memahami setiap bentuk kebaikan dari-Nya. Sampai akhirnya “masyaAllah, Alhamdulillah, jadi ini yaa bentuk kasih sayang Allah…”

Hi, mungkin catatan ini akan berisi tentang diriku sendiri. Tentang opini dan juga bagaimana aku melihat diriku. (so, kalau sekiranya catatan ini tidak terlalu menarik untukmu, tak apa kamu boleh skip ke hal lain yang lebih bermanfaat yaa)

Alhamdulillah, sudah bertambah saja usiaku. Dan aku masih menjadi manusia yang lambat memahami semuanya. Tapi, aku sangat menikmati proses menjadi ‘manusia pencari makna’. Hmmm mulai darimana yaa..

As you know (buat orang yang mungkin lebih sering ketemu aku), aku (berhasil) jadi pribadi yang sudah mulai punya kemajuan untuk menyaring hal-hal yang harus dipikirkan. Ya, mengurangi hal-hal yang bisa bikin overthinking. Mulai dari kerjaan, tuntutan-tuntutan di luar kendali, omongan dan penilaian orang terhadap aku, dan manage expectations. Aku bisa agak bernafas lega karena akhirnya aku bisa ada dititik menjadi ‘nova’ yang sekarang walaupun sangat masih jauh dari baik. 

Dari mulai hal kerjaan, aku harus bener-bener bisa manage waktu agar tetep balance antara professional dan kehidupan pribadi sebagai manusia yang ‘waras’. Ada waktu aku bener-bener harus fokus menuntaskan pekerjaan dengan baik, mengerahkan pikiran dan tenaga ketika jam-jam kerja. Lewat itu, aku juga harus bisa punya waktu untuk sekedar bernafas dan mengupgrade diri dengan hal lain. Ditambah, menggunakan waktu untuk evaluasi ketimbang memikirkan hasil yang di luar kendali. Dan dalam hal ini aku masih belajar banget.

Kedua, tentang tuntutan-tuntutan di luar kendali. “Nov, kapan nikah?” waduh… klasik banget ngga sih? Dulu, pertanyaan ini mungkin ngga begitu berarti, hanya sekedar obrolan basa basi. Tapi, makin bertambahnya usia, ya, hal ini semakin aku pikirkan dan.. persiapkan. “Dia udah loh, kamu kapan nyusul?” wah nampaknya diri ini masih belajar untuk mengontrol “udah nov, ngga usah kekomporin sama orang, fokus memantaskan diri dulu, belajar banyak dulu dan tentunya luruskan niat”. Kita ga bisa kontrol omongan orang lain, tapi kita masih punya kendali lebih untuk memilih mana yang ingin kita dengar atau ngga. Tentang hal ini, mungkin Allah masih ingin aku belajar banyak sebelum aku bisa melangkah menuju kehidupan next chapter yang lebih menantang itu. Toh, jodoh dan tanggal nya ngga akan kemana.. iya ga?

Huft… dan lagi. Penilaian orang lain dan omongan orang lain terhadapku. Wah, jadi kebayang dulu kalau ada orang yang menilai aku buruk, kepikirannya lama banget. “emang aku gitu ya?” “aku tuh sebenernya ngga gitu loh” dan… pernyataan-pernyataan lainnya yang sebenernya hanya sibuk membuktikan diri ini ke orang lain. Padahal, penilaian orang lain itu ya di luar kendali kita. Kalau ada pepatah bilang “don’t judge a book by its cover” ya, cukup buat nasehat diri aja bukan buat maksa orang lain untuk pegang prinsip itu.

Terakhir, manage ekspektasi. Ini sih level paling sulit menurutku. Susah untuk melawan rasa-rasa manusiawi dalam diri yang sedikit-sedikit berharap, dan melenceng tanpa sadar berharap sama makhluk yang ternyata banyak kekurangan. Ngga dipungkiri hal ini adalah hal yang paling bisa banget bikin stress. Serius deh! Sampai ada dititik sadar, ternyata ekspektasi yang ngga di manage itu bisa bikin cape banget. Cape marah-marahnya, cape kecewanya, cape segala macemnya juga. Jadi, kalau punya harapan ya siapin juga untuk menerima hal terburuknya. Walaupun engga akan jadi otomatis ngga ngerasain kecewa, tapi seengganya luka hati ini tidak akan terlalu mengnganga lebar sampe akhirnya susah diobatin.

So, aku yakin, semua orang punya proses dewasa nya masing-masing. Dewasa yang ngga hanya sekedar usia, dewasa yang ngga hanya sekedar pemikiran teoritis, tapi jadi dewasa yang BIJAK. Itu adalah pelajaran seumur hidup! Semoga kita selalu jadi orang yang gampang nurut sama arahan Allah yaa, jadi orang yang ngga bebal dan bandel kalo dikasih pelajaran bahkan ujian hidup. Jadi manusia pencari makna yang cerdas dan juga gercep, biar bisa selamat dunia dan akhirat. Aamiin

Ah, ini hanya sekedar catatan kecil untuk sedikit merangkum proses belajarku selama ini. Walaupun seringkali masih mode-mode ga konsisten, jadi catatan ini bisa menjadi reminder kalau lagi “oleng”. 😊

Salam dari manusia pencari maknaa 💓

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Manusia seutuhnya?

Kali ini, izinkan aku untuk menuliskan hal-hal yang aku takutkan berharap, setelah menulis ini kenyataan tak sebesar kehawatiranku Akhir-akh...