Jumat, 19 Januari 2018

Potret Makna

Aku hampir tidak bisa menghitung berapa ribu kali langkah kakiku berjalan. Dari pagi hingga ba’da isya aku menelusuri setiap jalan yang aku yakini sebagai tempat pembelajaran hidup. Ada rasa tenang, hangat dan nyaman ketika aku bertemu orang-orang baru yang dihadirkan dihidupku disetiap harinya. Itu artinya, aku bisa banyak menemukan senyuman yang beragam dari orang yang berbeda-beda. Kau tahu rasanya? Ya tentu aku bahagia. Kebahagiaan sederhana yang tak bisa terukur oleh orang lain secara fisik, namun dapat dirasakan kenikmatannya oleh orang yang bersyukur dan terenyuh oleh kasih sayang Sang Penyayang.

Ketika gelap mulai menutup cahaya senja. Aku masih bergabung dengan para penumpang angkutan umum dengan segmentasi penumpang yang berbeda-beda. Dimulai dari ibu-ibu, wanita kantoran, hingga tiga gadis belia yang tengah asyik berbincang seputar kegiatan sekolahnya. Aku tak bisa menutup telinga untuk mendengar percakapan diantara ketiga gadis belia itu. Gadis yang duduk disebelahku nampaknya terlihat sedikit murung dan tak lama ia membuka pembicaraan dengan tema baru. Dia kehilangan sejumlah uangnya dan memikirkan utang-utangnya pada teman-temannya yang masih belum terbayar. “masih remaja, pikirannya sudah seberat orang dewasa memikirkan utang” gelitikku dalam hati, dan tak lama setelah itu, sementara aku sibuk memasang headset-ku ke handphone tiba-tiba pembicaraan mereka mulai beralih ke topik “si guru ganteng”, sampai-sampai mereka mengaku-ngaku “dia (guru ganteng) pacar aku”, “bebep aku”, begitu katanya. Kau tahu? itu percakapan yang sungguh membuatku geli, aneh, muak, dan miris. Portret remaja zaman sekarang. Ada apa dengan krisis rasa malu mereka? Walaupun itu hanya candaan tapi rasanya tidak etis saja terdengar oleh orang-orang dewasa yang mungkin pada saat itu ingin menggelengkan kepalanya karena ikutan miris.

Setelah turun dari angkutan umum, suasana maghrib dengan diiringi lantunan indah sang Muadzin yang beradu indah antara speaker mesjid yang satu dengan yang lain meramaikan perjalananku yang tengah sendiri. Menelusuri  jalan besar yang ramai kendaraan berlalu lalang. Langit berubah menjadi biru sendu. Aku langsung mematikan mp3 player –ku karena adzan sudah mulai berkumandang. Tas ku yang cukup berat membuat aku ingin segera sampai pada tempat tujuan, Mesjid.

Tepat pada saat semua jamaah masjid selesai menunaikan sholat maghrib berjamaah, seperti biasa aku melangkahkan kaki menaiki anak tangga Mesjid. Satu anak laki-laki ramaja dengan baju koko merah yang sering ia pakai dengan bawahan sarung, berjalan gontai dan pelan tepat dihadapanku. “Kok jalannya begitu? Abis disunat?” Guyon ku pada anak didikku yang cukup aktif hadir ke Mesjid itu. Ternyata kakinya terkilir. Namun luar biasanya (menurutku), walau kakinya sakit, ia tetap melangkahkan kaki ke masjid.

Seperti biasa kami semua berbincang-bincang di lantai dua Mesjid. Aku, rekanku, dan ke-enam anak didikku duduk melingkar. Sesekali melempar canda dan tawa yang tanpa sadar volume suara kita mengganggu bapak-bapak yang mungkin sedang asyik tadarus Al-Qur’an. Sesekali kami pun ditegur untuk mengatur volume suara. Hafalan surat Al-mulk terdengar indah menyentuh hati kala kami mencoba menghafalnya bersama-sama. Memori yang indah..

City lights terlihat sangat cantik dari jendela lantai dua masjid yang menghadapkan wajahnya pada pemandangan kota malam. Angin dingin yang mencoba menyapa dengan lembut keroyokan menghampiri lewat celah jendela yang kubuka. Adzan isya yang syahdu terasa menggema hingga ke langit. Suara yang mendamaikan..

Seusai sholat isya berjamaah, aku menghampiri Ibu Pur untuk mencium tangannya. Dan seperti biasa ia selalu mengajakku berbincang. Selalu ada atmosfir nyaman dan suasana hangat seorang ibu yang hadir dalam sosok Ibu Pur ini. Ia lalu menyentuh wajahku dan berkata “Neng sehat? Kok mukanya merah gitu?”, “masa sih bu? Oh iya mungkin kecapean aja hehe” Jawabku. seperti biasa ia selalu menanyakan “Tema hari ini apa?” (beliau menanyakan kegiatan mengaji remaja hari ini). “Oh sekarang sih lagi nyoba hafalan surat Al-Mulk bu”. “Oh pantesan tadi dari rumah ibu denger sayup-sayup bacaan Qur’an, ternyata lagi menghafal ya..”. ya, ruumahnya tepat ada di sebelah Mesjid, berdempetan.

Tak lama setelah perbincangan hangatku dengan Ibu Pur, kedua rekanku bergabung dengan obrolan kami. Cukup banyak Ibu Pur bercerita, yang isinya tidak jauh dari kajian islam secara tidak langsung. Ada yang menarik perhatianku sampai aku dan rekan (guru mengajiku) meneteskan air mata. Ibu Sur bercerita tentang sosok Almarhumah ibu dari guru ngajiku itu. Ia menceritakan kesan-kesannya mengenal almarhumah, ia bercerita pula, pernah anaknya menangis dan bilang padanya “Bu, ibu baik yang selalu memberikan aku uang dan permen sudah tidak ada (meninggal)” ya, yang dimaksud adalah ibu dari guru mengajiku yang akhlaknya masih dikenang hingga sekarang, kebaikan kecil yang menempel indah nan kuat dibenak anak Ibu Pur. masyaAllah.. kebaikan sekecil apapun ketika kita meninggal masih akan selalu terekam indah..

Banyak yang aku pelajari dari sosok Ibu Pur itu. Nasehatnya selalu teringat sampai sekarang, bahkan do’a-do’a yang dilontarkannya untukku. Ntah rasanya aku ingin tertawa geli dan bahagia saja ketika mengingat beliau pernah memberiku kajian tentang “Cinta” sampai beliau bercerita mengenai masa lalu indah ketika bertemu dan dilamar oleh suaminya sekarang. Lagi-lagi aku menemukan guru terbaik dalam hidupku. Alhamdulillah…

Di Mesjid itu banyak kenangan yang belum pernah terlupakan hingga sekarang, dari awal berdirinya aku mengikuti  metamorfosa Mesjid itu. Dari TK hingga menjadi mahasiswi semester 8 seperti sekarang, masjid itu masih kokoh berdiri bahkan makin banyak jamaahnya. Aku benar-benar menemukan rumah baru yang sangat indah dan nyaman. Aku bahagia, aku bersyukur. Allah memilihku untuk menjalani takdir yang kuhadapi saat ini. Banyak takdir yang tak mudah dijalani, namun disisi lain hadiah Allah akan setara atau bahkan melebihi beban yang ia turunkan sebagai ujian padaku. Ya Allah.. izinkan aku terus dalam agama-Mu dan tetap terus mencintai-Mu.. anugerah luar biasa.. 


Manusia seutuhnya?

Kali ini, izinkan aku untuk menuliskan hal-hal yang aku takutkan berharap, setelah menulis ini kenyataan tak sebesar kehawatiranku Akhir-akh...