Kamis, 23 September 2021

NOTHING?

Yakin kamu ngga mencapai apa-apa selama ini?
Kamu yang belum mencapai apa-apa atau kamu yang punya standar pencapaian yang sebenernya tidak harus dijadikan sebuah ukuran? Atau seperti apa??


Aku selalu merasakan hangatnya percakapan dengan ayahku, walau sering kali terjadi. Cerita yang sama yang keluar dari mulut ayahku terus diulang. Ya, beliau selalu cerita tentang pencapaiannya selama ini. 
Ayahku bukan pejabat tinggi, ayahku hanya pensiunan pabrik. Tapi, dari beliaulah aku banyak belajar arti bersyukur.
Sejak kecil, aku selalu dididik dengan kesederhanaan. Sampai aku kesal karena selalu berbeda dengan orang lain.
Dimulai dari baju seragam SD-ku. Yang seumur-umur aku ngga pernah ngerasain rasanya beli seragam sekolah baru. Ibuku pasti membuat seragam itu sendiri, dengan jahitannya yang masih kurang rapi. Semakin bertambah usia, aku ngga lagi cuek sama seragamku yang berbeda. Dimulai dari model roknya, bahan kemeja putihnya yang ukurannya selalu kegedean. Mama bukannya ngga mau beliin seragam, tapi ia selalu punya prinsip selagi bisa menghemat dan mampu membuat itu sendiri yasudah, buat saja sendiri.
Dulu, ketika teman-temanku beli mainan, aku selalu diajak oleh ibuku untuk membuat Barbie Paper sendiri. Padahal harga Barbie Paper saat itu hanya tiga ratus rupiah. Tapi mama selalu bilang "bikin aja sendiri, mama bisa" walau akhirnya selalu di luar ekspektasi. Aku kecewa dengan Barbie Paper buatan ibuku yang sama sekali ngga keren.
Dulu, saat teman-temanku dengan mudahnya bisa minta jajan Snack Chiki ball. Aku malah dilarang untuk jajan Chiki, katanya takut batuk. Mending bikin cemilan sendiri.
Alhamdulillah, semua yang dilakukan ibuku bukan karna aku kurang mampu untuk membeli apa yang aku inginkan. Tapi hanya saja, aku diajak untuk lebih berpikir kreatif dan tidak tergantung pada uang.
Ya, begitupun ayahku.
Ruang tamu, menjadi saksi hangatnya perbicangan antara aku dan ayahku. Ayahku selalu cerita "dulu, bapak ngga kepikiran punya rumah. Tp Alhamdulillah luar biasanya kuasa Allah. Bapak yg cuma jadi karyawan pabrik bisa beli rumah disini" matanya berbinar melihat sekeliling ruang tamu.
Ayahku sudah puluhan tahun mengabdi di perusahaan yang bergerak di pabrik tekstil. Ia bekerja keras untuk menghidupi ke 5 anaknya. Didampingi oleh ibuku. Si menteri Keuangan yang luar biasa. 
Seperti yang aku pernah ceritakan di postinganku sebelumnya. Tentang motor.
Ayahku ngga punya motor sama sekali sampai sekarang. Sementara banyak diantara teman-temannya yang berlomba untuk cicil motor hanya untuk punya motor. Alhamdulillah ayahku sama sekali tidak pernah iri dengan orang yang sudah punya motor, kemana-mana pake motor. Ayahku dengan bahagianya selalu menggunakan sepeda Phoenix jadulnya untuk alat transportasi. Bahkan saat mengantar kakak ku ke sekolah SMAN 8 Bandung dimana banyak teman-teman kakakku yang diantar jemput pakai motor dan mobil. Kakakku tak pernah malu punya ayah yang sederhana.

Dulu, aku banyak tak sabar dengan didikan orang tua ku yang selalu mengajarkan ku hidup sederhana.
Kini, malam ini. Ntah apa yang membawaku pada rasa syukur yang teramat aku rasakan. Aku melihat sekeliling kamarku. Melihat lampu belajar, buku-buku, dan barang lainnya. Ya.. sekarang aku bisa dengan mudah membeli barang yang ingin ku beli.
"Mah pak... Sekarang Nova udah bisa belanja keperluan sendiri"
Dulu, untuk minta mainan pun aku sangat segan. Tapi sekarang untuk membeli apapun yang aku inginkan aku bisa wujudkan dengan kerja kerasku.
"Mah Pak, mamah sama bapak udah ngga perlu khawatir dan sedih saat ga bisa beliin Nova baju lebaran, sekarang Nova bisa belanja sendiri. Bapak sama mamah ngga perlu mikirin itu lagi" .....

Teruntuk diriku sendiri. Kamu sudah menyelesaikan banyak pencapaian dalam hidupmu. Kadang, percapaian tidak harus butuh pengakuan dari orang lain. Tidak perlu pernyataan dari orang lain bahwa kamu telah berhasil mencapai suatu hal.
Karena sesungguhnya, yang bisa merasakan pencapaian itu adalah kamu sendiri. Titiknya ada pada saat kamu begitu menghargai semua proses panjang yang sudah kamu lalui. Kamu hebat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Manusia seutuhnya?

Kali ini, izinkan aku untuk menuliskan hal-hal yang aku takutkan berharap, setelah menulis ini kenyataan tak sebesar kehawatiranku Akhir-akh...