Aku seolah terlempar jauh dari
rumahku yang dulu. Rumah yang membuatku nyaman, hangat dan bebas menjadi diriku
sendiri.
Namun suatu hari, ada yang
membawaku terlalu lama bermain di luar rumah hingga untuk ingin pulang ke rumah
pun rasanya sangat jauh, Bahkan aku lupa alamat rumahku sendiri. Aku butuh
orang yang mengantarku pulang ke rumah dengan aman.
Kukira orang yang mengajakku
bermain ke luar rumah akan mengantarkan aku pulang ke rumah, namun nyatanya ia
malah semakin membawaku jauh dari rumah. Tempat tinggalku. Ia seolah
menjanjikan rumah yang lebih indah yang akan temui nanti, namun nyatanya
harapan menemukan rumah yang jauh lebih indah dan lebih baik itu tak juga
berujung. Sampai di tengah jalan aku merasa, yang keluar dari mulutnya hanya
omong kosong.
Setelah lama aku bersabar,
akhirnya ia bisa menjawab keraguanku. Ia mengantarkanku pada sebuah rumah yang
indah dan nyaman. Bahkan lebih indah dari rumahku yang dulu. Rumah itu wangi,
terang dan mempesona. Indah sekali. Aku sangat betah dan tak mau keluar.
Namun setelah sekian lama aku
mendiami rumah itu, sedikit demi sedikit aku mulai merasakan ketidak nyamanan. Orang
itu membawa semakin banyak tamu ke rumahnya. Rupanya ia juga ingin orang lain
melihat keindahan rumahnya. Alhasil, para tamunya itupun sama, merasakan
kenyamanan seperti apa yang aku rasakan saat pertama kali diajak untuk tinggal
di rumah itu.
Lama kelamaan aku merasa kecewa. Ku
kira hanya aku yang akan menempati rumah indah itu. Ternyata salah, ia merasa
tak puas jika hanya satu orang saja yang melihat keindahannya. Alhasil, rumah
yang luas, indah dan nyaman itu perlahan menjadi tempat yang sempit, gelap dan
pengap untukku. Aku ingin sekali keluar. Aku tak suka dengan tempat yang
sempit. Aku tak suka dengan tempat yang ramai. Aku tak suka bila aku diacuhkan
oleh tuan rumah yang sibuk menjamu tamunya yang lain. Aku harus pergi.
Namun apa yang terjadi? Sulit
sekali menemukan pintu keluarnya. Sekali aku menemukan sebuah pintu, seolah
pintu itu terkunci rapat. Rupanya tuan rumah tak ingin aku pergi meninggalkan
rumah itu. Katanya aku adalah tamu yang paling spesial.
Aku kembali mengurungkan niat
untuk keluar dari rumah itu, dan mencoba untuk lebih sabar menikmati keindahan
rumah itu lebih lama. Tuan rumah kembali menjamu ku dengan hidangan yang lezat
hingga aku tak lagi berpikir ingin keluar dari rumah itu.
Lagi-lagi aku kecewa. Ternyata tamu
lain pun dijamu dengan spesial olehnya. Bahkan hidangannya lebih banyak dan
lezat. Sehingga tamu lain semakin betah di dalam rumah itu.
Aku semakin muak dengan tempat
yang sempit itu. Aku seolah dihiraukan begitu saja oleh tuan rumah. Aku
merindukan rumahku yang dulu. Walau kecil namun rumahku lebih nyaman dan tidak
sempit seperti rumah si tuan rumah itu.
Keesokan harinya aku memutuskan
untuk benar-benar pergi. Aku ingin pulang. Kucoba mendekati pintu keluar.
Karena aku benar-benar sudah tak betah, walaupun pintu itu terkunci rapat akan
kudobrak sekuat tenaga. Biarlah tulangku remuk asalkan aku bisa keluar dari
rumah itu dan tak ingin kembali lagi.
Namun kembali tuan rumah
membujukku untuk tetap tinggal dan meminta maaf atas segala kesalahannya menghiraukanku.
Ingin rasanya aku berteriak di depan si
tuan rumah. Apadaya, aku hanya mampu Teriak di dalam hati. “Hentikan! Tolong hentikan
bujukkanmu! Aku benar-benar ingin pulang..” walau memang berat meninggalkan
rumah seindah itu, aku harus benar-benar tegas untuk pulang sebelum rumah ini
semakin penuh.

Sepertinya sudah terlalu lama sy di luar rumah, sy jg ingin kembali pulang..
BalasHapus