Jumat, 13 April 2018

Tentang Sebuah Rumah


Aku seolah terlempar jauh dari rumahku yang dulu. Rumah yang membuatku nyaman, hangat dan bebas menjadi diriku sendiri.
Namun suatu hari, ada yang membawaku terlalu lama bermain di luar rumah hingga untuk ingin pulang ke rumah pun rasanya sangat jauh, Bahkan aku lupa alamat rumahku sendiri. Aku butuh orang yang mengantarku pulang ke rumah dengan aman.

Kukira orang yang mengajakku bermain ke luar rumah akan mengantarkan aku pulang ke rumah, namun nyatanya ia malah semakin membawaku jauh dari rumah. Tempat tinggalku. Ia seolah menjanjikan rumah yang lebih indah yang akan temui nanti, namun nyatanya harapan menemukan rumah yang jauh lebih indah dan lebih baik itu tak juga berujung. Sampai di tengah jalan aku merasa, yang keluar dari mulutnya hanya omong kosong.

Setelah lama aku bersabar, akhirnya ia bisa menjawab keraguanku. Ia mengantarkanku pada sebuah rumah yang indah dan nyaman. Bahkan lebih indah dari rumahku yang dulu. Rumah itu wangi, terang dan mempesona. Indah sekali. Aku sangat betah dan tak mau keluar.

Namun setelah sekian lama aku mendiami rumah itu, sedikit demi sedikit aku mulai merasakan ketidak nyamanan. Orang itu membawa semakin banyak tamu ke rumahnya. Rupanya ia juga ingin orang lain melihat keindahan rumahnya. Alhasil, para tamunya itupun sama, merasakan kenyamanan seperti apa yang aku rasakan saat pertama kali diajak untuk tinggal di rumah itu.

Lama kelamaan aku merasa kecewa. Ku kira hanya aku yang akan menempati rumah indah itu. Ternyata salah, ia merasa tak puas jika hanya satu orang saja yang melihat keindahannya. Alhasil, rumah yang luas, indah dan nyaman itu perlahan menjadi tempat yang sempit, gelap dan pengap untukku. Aku ingin sekali keluar. Aku tak suka dengan tempat yang sempit. Aku tak suka dengan tempat yang ramai. Aku tak suka bila aku diacuhkan oleh tuan rumah yang sibuk menjamu tamunya yang lain. Aku harus pergi.

Namun apa yang terjadi? Sulit sekali menemukan pintu keluarnya. Sekali aku menemukan sebuah pintu, seolah pintu itu terkunci rapat. Rupanya tuan rumah tak ingin aku pergi meninggalkan rumah itu. Katanya aku adalah tamu yang paling spesial.
Aku kembali mengurungkan niat untuk keluar dari rumah itu, dan mencoba untuk lebih sabar menikmati keindahan rumah itu lebih lama. Tuan rumah kembali menjamu ku dengan hidangan yang lezat hingga aku tak lagi berpikir ingin keluar dari rumah itu.

Lagi-lagi aku kecewa. Ternyata tamu lain pun dijamu dengan spesial olehnya. Bahkan hidangannya lebih banyak dan lezat. Sehingga tamu lain semakin betah di dalam rumah itu.
Aku semakin muak dengan tempat yang sempit itu. Aku seolah dihiraukan begitu saja oleh tuan rumah. Aku merindukan rumahku yang dulu. Walau kecil namun rumahku lebih nyaman dan tidak sempit seperti rumah si tuan rumah itu.
Keesokan harinya aku memutuskan untuk benar-benar pergi. Aku ingin pulang. Kucoba mendekati pintu keluar. Karena aku benar-benar sudah tak betah, walaupun pintu itu terkunci rapat akan kudobrak sekuat tenaga. Biarlah tulangku remuk asalkan aku bisa keluar dari rumah itu dan tak ingin kembali lagi.

Namun kembali tuan rumah membujukku untuk tetap tinggal dan meminta maaf atas segala kesalahannya menghiraukanku. Ingin rasanya aku  berteriak di depan si tuan rumah. Apadaya, aku hanya mampu Teriak di dalam hati. “Hentikan! Tolong hentikan bujukkanmu! Aku benar-benar ingin pulang..” walau memang berat meninggalkan rumah seindah itu, aku harus benar-benar tegas untuk pulang sebelum rumah ini semakin penuh.

1 komentar:

  1. Sepertinya sudah terlalu lama sy di luar rumah, sy jg ingin kembali pulang..

    BalasHapus

Manusia seutuhnya?

Kali ini, izinkan aku untuk menuliskan hal-hal yang aku takutkan berharap, setelah menulis ini kenyataan tak sebesar kehawatiranku Akhir-akh...