Sabtu, 21 Maret 2020

Oh, seperti ini makna berproses?



Dulu pandanganku terhadap dunia tak pernah se-detail saat ini. Saat aku remaja, pikiranku hanya berkutat di tugas-tugas sekolah, ekstrakulikuler, merawat pertemanan, ya hanya sebatas itu. Tapi setelah aku meinjakkan kaki di bangku perguruan tinggi pandanganku terhadap dunia jadi lebih terbuka. Lingkungan, kebiasaan, teman diskusi menggiringku untuk menatap lebih jauh sampai pada hal-hal terkecil yang ada di dunia ini.

Selalu ada hal menarik ketika aku berbincang dengan Ayahku. Kebetulan Ayah dan Ibuku hobi sekali berdongeng tentang masa mudanya. Sekilas aku berpikir, mungkin kelak ketika aku tua nanti, aku pun akan punya hobi yang sama,bercerita tentang perjalanan hidupku pada anak dan cucuku nanti. Hal itu membuat aku berpikir, aku harus membuat cerita indah, penuh drama namun happy ending dari sekarang agar nanti anak cucuku bisa mengambil pelajaran berharga tepat dari ibu atau neneknya ini. Dan aku selalu berpikir untuk selalu menuliskan setiap episode hidupku lewat tulisan-tulisan sederhanaku ini. Percayalah tidak ada satupun manusia di dunia ini yang kisah hidupnya tak punya tantangan, jatuh bangun, atau konflik yang menghiasi kisahnya. Se-datar apapun kisah hidup tetap punya jalan cerita.

“Alhamdulillah… Rumah ini sekarang makin sempit sama motor kamu” Bapak memulai pembicaraan di ruang tamu sambil tersenyum melihat ke arah motorku yang terparkir disana.
Motorku memang bukan motor baru, tapi mendapatkannya saja rasanya Bahagia dan aku sangat bersyukur. Sebelumnya aku sempat ragu, harga motor yang bisa mencapai belasan juta rupiah nampaknya membuat aku berpikir matematis “Bisa kebeli ngga ya?”. Ah benar saja, hitungan matematis manusia selalu melenceng kalau masalah rezeki. Karena banyak rezeki tak terduga yang Allah sudah siapkan.
“Maaf ya, bapak dulu belum bisa beliin apa yang kamu mau” Nadanya berubah menjadi sendu. Namun  tak lama beliau melanjutkan kembali obrolannya.

“Kamu tuh ngingetin bapak waktu dulu. Dulu ketika temen-temen bapak di kampung udah pada punya sepeda, bapak sendiri yang belum punya dan belum bisa sepeda. Temen bapak bilang “belajar dri, kan ada sepeda Pak de mu”, tapi bapak gak mau. Prinsip bapak, bapak pengen belajar pake sepeda bapak sendiri. Karena bapak takut kalau belajar pake sepeda orang, takut rusak. Dan alhamdulillah setelah nabung dan kumpul-kumpul uang akhirnya kebeli deh sepedah ini” Ia tertawa kecil sambil menunjuk sepeda phoenix berwarna hijau tua yang teparkir tepat di sebelah motorku. Sepeda ontel kesayangan Bapak yang sampai saat ini masih awet dan dirawat dengan sangat apik.

“Sama banget kayak kamu, dulu bapak pas udah punya sepeda ya belum bisa sepeda. Bapak sempet males belajar sepeda padahal udah punya sepeda. Tapi liat temen-temen bapak pada main pake sepeda, bapak jadi pengen bisa juga dan akhirnya bapak bisa. Wah belajarnya perjuangan sekali sampe sering nabrak pohon kelapa” Senyumnya masih tak lepas dari wajahnya. Ia selalu tersenyum dan tertawa kecil jika menceritakan masa lalunya.

Dulu waktu SMP aku selalu iri melihat teman-temanku yang selalu diantar jemput pakai motor oleh ayahnya. Sampai ketika sore menjelang maghrib tiba, hanya tersisa aku sendiri yang menunggu di depan sekolah. Niatnya aku ingin menemani temanku yang sedang menunggu orang tuanya menjemput. Namun saat temanku sudah dijemput, dan tinggal aku sendiri aku menangis sambil jalan menuju arah pulang. Ya, saat itu aku ingin seperti mereka.

Dulu juga semasa aku kuliah, aku selalu mencari pekerjaan sambilan untuk mengisi waktu dan mencari sumber uang untuk tabungan. Alhamdulillah saat itu keadaan ekonomi keluargaku baik-baik saja. Hanya saja kebetulan aku memang suka mengajar dan dulu aku ingin mengumpulkan uang untuk membeli handphone baru karena handphone-ku sudah lumayan ketinggalan jaman juga. Hehe

Selesai  mengajar sekitar maghrib atau bahkan ba’da isya. Malam itu aku menunggu angkot tujuan. Hampir setengah jam aku berdiri disana dan tak ada satupun Angkot yang muncul. Memang di daerah itu angkot semakin malam semakin sulit ditemui. Sementara jalanan tempatku berdiri sudah gelap. Lampu-lampu toko disana mulai dimatikan karena toko mendekati  jam tutup. Jujur saat itu aku sudah mulai takut. Aku berpikir “GImana kalo bener-bener ngga ada angkot?”. Kebetuan aku berdiri dipinggir jalan raya yang satu arah, jadi aku tak punya lagi pilihan lain selain menunggu angkutan umum yang lewat arah rumahku. Dan saat itu belum ramai Ojek Online seperti sekarang. Jadi benar-benar  tidak ada pilihan. Hatiku kembali menjerit “Coba aja punya motor, pasti daritadi aku udah pulang dan sampai rumah”. Aku menangis lagi, menangis karena takut sekaligus kesal.

Mengingatnya kadang membuatku sakit sekaligus membuatku sangat bahagia merasakan nikmat dari Allah. Sekarang aku lebih yakin dengan kata pepatah ini “Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Nikmat berproses. MasyaAllah… sungguh mahal harganya.

Ini bukan cerita tentang motor semata. Tapi lebih dari itu, aku belajar hal yang sangat berharga. Ketika kita berproses, kita sedang menyusun episode demi episode hidup dengan segala lika-likunya. Sebuah film dengan durasi yang singkat dan tak punya klimaks pada ceritanya rasanya akan membosankan bukan? namun ketika kamu punya rentetan kisah hidup yang menyimpan berjuta makna, lalu kamu perlihatkan pada dunia, percayalah akan ada banyak orang yang terobati dan terinspirasi untuk mengambil pelajaran berharga. Bahkan kisahmu bisa jadi vitamin yang membuat banyak orang menjadi kuat dan percaya diri pada hasil akhir yang baik jika mereka menikmati proses.

Untuk kita yang saat ini sedang ada dititik Lelah, merasa diri tak berharga, merasa ingin menyerah, merasa bosan. Bertahanlah dan yakin. Kisahmu hari ini adalah rangkaian dari film kehidupan terbaikmu. 😊



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Manusia seutuhnya?

Kali ini, izinkan aku untuk menuliskan hal-hal yang aku takutkan berharap, setelah menulis ini kenyataan tak sebesar kehawatiranku Akhir-akh...