Senin, 02 September 2019

Berubah


Malam. Waktu yang paling tepat untuk berdialog dengan diri sendiri. Setelah seharian penuh pikiran dan fisik mengeluarkan energi untuk berjuang dalam kehidupan ini.
Sebenarnya aku selalu lebih leluasa mengungkapkan isi hati lewat pulpen yang beradu dengan selembar kertas kosong. Aku merasa diri ini bisa lebih jujur bahkan terkadang emosi yang tidak dirasakan sebelumnya tiba-tiba tertumpahkan saat pena itu menggariskan kata demi kata.
Aku baru menemukan lagi aku yang dulu. Aku yang dulu hampir setiap hari tak pernah absen menulis ceritaku di dalam sebuah diary. Aku merasa ketika aku menulis setiap kisah hidupku, aku merasa lebih hidup. Artinya tidak ada setiap detik kehidupanku yang tidak berkesan. Mau itu kesan baik atau buruk, setidaknya aku merasakan bahwa aku adalah pemeran utama dalam hidupku sendiri. Dan hal itu membuatku jauh lebih berarti.
Aku mencoba merangkai “aku yang dulu”. Seringkali aku terdiam, memikirkan apa yang hilang dari diriku. Ternyata jika direnungkan begitu, aku merasa makin banyak yang hilang dalam diriku. Salah satunya, hobi menulisku.
Ah, bukan puitis. Namun entah kenapa aku sulit sekali melepas gaya Bahasa menulisku yang seperti ini. Padahal jika di dunia nyata Bahasa ku biasa-biasa saja, tidak melulu formal seperti ini. Bagaimana Bahasa-ku di diary ku sendiri? Tentu tidak selalu seformal ini juga. Jadi, semoga pembaca bisa menikmati gaya bahasaku yang seperti ini yaa. Hehe
Waktu berjalan. Tapi kadang aku merasa sedang berada di sebuah video yang sedang di “pause” alias aku merasa aku tidak pernah pergi kemana-mana, merasa masih tetap di frame yang sama. Jika melihat banyak teman-temanku di luar sana yang punya kehidupan begitu dinamis. Ada yang sudah pindah kerja keluar kota, dinas ke luar provinsi setiap minggunya, ada yang sudah menikah, ada yang sudah punya anak, ada yang melanjutkan studinya ke jenjang S2. Yah! Sudah sampai sana saja aku melihat kehidupan mereka, jangan sampai kejauhan.
Tidak. Bukan sedang putus asa. Ingin tertawa saja melihat apa yang banyak terjadi di dunia ini. Seseorang tak mungkin sama dari waktu ke waktu. Perubahan itu pasti ada. Kalau sedang merenung menenangkan diri, terkadang pikiranku jauh menembus waktu. Bagaimana  jadinya jika kelak semua keponakanku nanti sudah beranjak dewasa, ada yang sudah masuk Sekolah Menengah Atas bahkan kuliah. Yah.. tidak ada lagi wajah-wajah lucu yang selalu ku update di status karena tingkahnya yang menggemaskan. Bagaimana nanti jika aku dan sahabat-sahabatku sudah saling berkeluarga dan punya anak-anak yang lucu? Membayangkan itu kadang membuatku Bahagia sekaligus sedih.
Satu hal yang tak akan pernah berubah di dunia ini adalah perubahan itu sendiri” Kata Dosenku yang sangat disegani oleh para mahasiswanya karena kecerdasannya plus ketegasannya. Pak Setya. Kata-kata itu menyadarkanku bahwa bagaimanapun keadaan mental kita, siap atau tidak siap kita harus bia menerima perubahan yang ada. Aku mulai terbiasa dengan kejutan-kejutan di dalam hidupku. Karena aku yakin semua sudah dituliskan-Nya dengan rapih. Perubahan tak selalu berada di luar kendali kita. Perubahan dalam diri, itu ada dalam genggaman kendali kita. Semua orang pasti berubah. Tak selamanya keadaan yang membuat semua orang berubah, tapi diri setiap orang juga yang menghendaki dan mengendalikan perubahan dalam dirinya.
Jangan menjadi orang yang hanya menonton perubahan orang lain. Jangan juga malah menjadi komentator perubahan orang lain. Ubahlah dirimu dengan caramu sendiri. Ubahlah dengan cara yang baik dan ke arah yang lebih baik pula. Agar suatu saat nanti, yang menjadi penonton di kehidupanmu bilang “waw… kamu benar-benar berubah” dengan senyuman penuh kekaguman.
Jika hari ini kamu merasa payah, masih ada kuasamu untuk merubah citra diri. Jika hari ini kamu merasa lemah, kamu masih punya kekuatan untuk membuat dirimu tegap dan lebih kuat lagi. Jika hari ini kamu merasa bodoh, kamu masih punya kendali untuk melatih dirimu menjadi pintar. Jadi.. jangan pernah merasa tertingal. Tapi buatlah dirimu merasa bahwa kamu terus berlari.


Manusia seutuhnya?

Kali ini, izinkan aku untuk menuliskan hal-hal yang aku takutkan berharap, setelah menulis ini kenyataan tak sebesar kehawatiranku Akhir-akh...