Malam. Waktu yang paling tepat
untuk berdialog dengan diri sendiri. Setelah seharian penuh pikiran dan fisik
mengeluarkan energi untuk berjuang dalam kehidupan ini.
Sebenarnya aku selalu lebih leluasa
mengungkapkan isi hati lewat pulpen yang beradu dengan selembar kertas kosong.
Aku merasa diri ini bisa lebih jujur bahkan terkadang emosi yang tidak
dirasakan sebelumnya tiba-tiba tertumpahkan saat pena itu menggariskan kata
demi kata.
Aku baru menemukan lagi aku yang
dulu. Aku yang dulu hampir setiap hari tak pernah absen menulis ceritaku di
dalam sebuah diary. Aku merasa ketika aku menulis setiap kisah hidupku, aku
merasa lebih hidup. Artinya tidak ada setiap detik kehidupanku yang tidak
berkesan. Mau itu kesan baik atau buruk, setidaknya aku merasakan bahwa aku
adalah pemeran utama dalam hidupku sendiri. Dan hal itu membuatku jauh lebih
berarti.
Aku mencoba merangkai “aku yang
dulu”. Seringkali aku terdiam, memikirkan apa yang hilang dari diriku. Ternyata
jika direnungkan begitu, aku merasa makin banyak yang hilang dalam diriku.
Salah satunya, hobi menulisku.
Ah, bukan puitis. Namun entah
kenapa aku sulit sekali melepas gaya Bahasa menulisku yang seperti ini. Padahal
jika di dunia nyata Bahasa ku biasa-biasa saja, tidak melulu formal seperti ini.
Bagaimana Bahasa-ku di diary ku sendiri? Tentu tidak selalu seformal ini juga.
Jadi, semoga pembaca bisa menikmati gaya bahasaku yang seperti ini yaa. Hehe
Waktu berjalan. Tapi kadang aku
merasa sedang berada di sebuah video yang sedang di “pause” alias aku
merasa aku tidak pernah pergi kemana-mana, merasa masih tetap di frame
yang sama. Jika melihat banyak teman-temanku di luar sana yang punya kehidupan
begitu dinamis. Ada yang sudah pindah kerja keluar kota, dinas ke luar provinsi
setiap minggunya, ada yang sudah menikah, ada yang sudah punya anak, ada yang
melanjutkan studinya ke jenjang S2. Yah! Sudah sampai sana saja aku melihat
kehidupan mereka, jangan sampai kejauhan.
Tidak. Bukan sedang putus asa.
Ingin tertawa saja melihat apa yang banyak terjadi di dunia ini. Seseorang tak
mungkin sama dari waktu ke waktu. Perubahan itu pasti ada. Kalau sedang
merenung menenangkan diri, terkadang pikiranku jauh menembus waktu.
Bagaimana jadinya jika kelak semua
keponakanku nanti sudah beranjak dewasa, ada yang sudah masuk Sekolah Menengah Atas
bahkan kuliah. Yah.. tidak ada lagi wajah-wajah lucu yang selalu ku update
di status karena tingkahnya yang menggemaskan. Bagaimana nanti jika aku dan
sahabat-sahabatku sudah saling berkeluarga dan punya anak-anak yang lucu?
Membayangkan itu kadang membuatku Bahagia sekaligus sedih.
“Satu hal yang tak akan pernah
berubah di dunia ini adalah perubahan itu sendiri” Kata Dosenku yang sangat
disegani oleh para mahasiswanya karena kecerdasannya plus ketegasannya.
Pak Setya. Kata-kata itu menyadarkanku bahwa bagaimanapun keadaan mental kita,
siap atau tidak siap kita harus bia menerima perubahan yang ada. Aku mulai
terbiasa dengan kejutan-kejutan di dalam hidupku. Karena aku yakin semua sudah
dituliskan-Nya dengan rapih. Perubahan tak selalu berada di luar kendali kita.
Perubahan dalam diri, itu ada dalam genggaman kendali kita. Semua orang pasti
berubah. Tak selamanya keadaan yang membuat semua orang berubah, tapi diri
setiap orang juga yang menghendaki dan mengendalikan perubahan dalam dirinya.
Jangan menjadi orang yang hanya
menonton perubahan orang lain. Jangan juga malah menjadi komentator perubahan
orang lain. Ubahlah dirimu dengan caramu sendiri. Ubahlah dengan cara yang baik
dan ke arah yang lebih baik pula. Agar suatu saat nanti, yang menjadi penonton
di kehidupanmu bilang “waw… kamu benar-benar berubah” dengan senyuman
penuh kekaguman.
Jika hari ini kamu merasa payah,
masih ada kuasamu untuk merubah citra diri. Jika hari ini kamu merasa lemah,
kamu masih punya kekuatan untuk membuat dirimu tegap dan lebih kuat lagi. Jika
hari ini kamu merasa bodoh, kamu masih punya kendali untuk melatih dirimu
menjadi pintar. Jadi.. jangan pernah merasa tertingal. Tapi buatlah dirimu
merasa bahwa kamu terus berlari.