Biarkan jari jemari ini menari
dulu di atas keyboard mencari kalimat awal untuk membuka cerita. Seringkali
yang membuat aku bingung untuk berbagi adalah pengantar. Apa aku terlahir
sebagai orang yang tidak punya seni untuk basa basi?
Beberapa kalimat sebelumnya sudah
kususun untuk membuka ceritaku kali ini. Mencoba menulis dengan bahasa santai
tapi rasanya itu bukan gaya menulisku. Lalu aku hapus lagi, aku ketik lagi, aku
hapus lagi, lalu aku buat lagi. Semoga ini adalah tulisan final yang akan aku
posting di blog naufa story.
Masih betah menjadi manusia
pencari makna. Masih juga menjadi manusia yang ‘ngga mau rugi’. Setiap keadaan
yang menimpaku harus berbuah pelajaran berharga untuk berproses menjadi dewasa.
Menjadi hamba-Nya yang ‘mau diatur’ dan cerdas memahami setiap yang Dia
hadirkan.
Beberapa orang yang “know me so well” pun sepertinya sudah
terbiasa dengan seorang ‘aku’ yang dalam beberapa keadaan sulit dimengerti. Dan
sepertinya tidak banyak orang yang bisa ‘hatam’ memahamiku. Ya bagaimanapun
kita manusia yang punya keterbatasan mengerti keadaan satu sama lain. Tapi,
terimakasih sebanyak-banyaknya untuk yang selalu mencoba memahami dan
memberikan treatment terbaik untuk
diri ini ketika benar-benar dalam keadaan ‘uncertain’.
Ketika dalam keadaan sangat ingin
marah dan menangis cukup sulit untuk mengerti dan memahami diri sendiri. Jadi
pada saat itu aku selalu fokus untuk mengungkapkan dan meluapkan segala
ekspresi yang terpendam agar selesai terlebih dahulu. Ya selesai dengan emosi
diri. Tidak perlu waktu berhari-hari untuk bangkit. Ketika dalam keadaan sulit,
yang harus aku selalu sadari adalah aku
harus belajar dan pelajaran itu sendiri lah yang akan membantuku bangkit.
Memang ketika dalam keadaan down, bosan, ingin marah aku harus
banyak menghindar dari hal-hal yang mendistrak. Salah satunya handphone. Sering
sekali, alih-alih mendapat empati dari orang lain eh malah kesal sendiri karena respon orang lain tidak sesuai dengan
ekspektasi. Itu sih bukan karena orang lainnya yang kurang pandai memahami, tapi
memang bukanlah waktu yang tepat untuk curhat
pada orang lain.
Dan finally, setelah semalaman
aku fokus menghabiskan sisa-sisa emosiku, Subuhnya, ketika mengambil air wudhu
emosi itu masih tersisa. Aku menangis saat air wudhu itu menyentuh wajahku yang
masih terasa sembab karena menangis semalam. Setelah mengambil wudhu aku
perbanyak istighfar, dan rasanya bacaan istighfar itu benar-benar menusuk ke
dalam hati. Aku sangat merasa bersalah pada-Nya. Detik itu mulailah aku mecoba
mengambil pelajaran berharga.
Rasa KECEWA. Rasa itulah yag
sedari kemarin begitu mengusikku. Aku benar-benar tidak bisa menahan air mata
ketika menyadari bahwa rasa kecewa itu hadir karena secara sadar ataupun tidak aku sedang berharap kepada selain Allah. Astaghfirullohaladzim..
Aku menghadapkan wajahku yang
penuh rasa bersalah ini pada-Nya saat pertemuan di shalat subuh itu. Aku
benar-benar merasa malu berhadapan dengan-Nya. Aku menangis sejadi-jadinya dan
mengungkapkan rasa bersalahku. Sedang aku rasakan, betapa lemah, bodoh lagi
hina diri ini. Ketika aku menyadari bahwa diri ini begitu sombong.
Kalau kamu pernah ngerasa sudah
belajar mati-matian buat ngejar nilai
bagus di ujian sekolah. kamu kecewa karena ternyata pada saat itu sebagian soal
yang ada di kertas ujian adalah materi yang tidak kamu pelajari secara
mendalam. Padahal sebelumnya kamu sempat mengira bahwa materi itu tidak akan
muncul, namun nyatanya salah. Untuk menutupi kekurangpahamanmu terhadap soal
itu, kamu tutupi dengan jawaban yang sangat panjang dan detail walaupun kamu
sendiri tidak percaya diri apakah jawaban basa-basi itu benar atau tidak.
Berharap ketika guru melihat jawaban yang cukup panjang, guru akan
mengapresiasi usahamu dalam menjawab soal. Namun sayangnya, setelah ujian kamu
mendapati nilaimu jauh di bawah ekspektasi, Kamu kesal sejadi-jadinya karena
kamu merasa ikhtiar belajarmu selama ini tidak berujung perhargaan. Rasanya
waktu yang banyak kamu korbankan untuk belajar itu sia-sia.
Kenapa kita bisa merasa sangat
kecewa? Ternyata inilah pintu-pintu kekecewaan itu. Pertama, kita menganggap
bahwa sumber kebahagiaan hanya ada pada NILAI UJIAN. Kita menaruh kebahagiaan
pada hal duniawi. Kedua, kita hanya tau bahwa manusia lah yang memegang kendali
atas kehabagiaan kita. Ketiga, kita secara tidak sadar sedang ‘menuhankan’
ikhtiar. Naudzubillahimindzalik..
Ketika kita sedang merasa kecewa, berarti kita sedang menaruh harapan
pada yang lemah. Yang sesungguhnya sama sekali tidak bisa memegang kendali
penuh atas apapun. Bukan hanya menaruh harapan pada orang lain, tapi bisa jadi
kita sedang menaruh harapan pada diri sendiri. ‘Menuhankan ikhtiar’. Merasa
sudah paling benar ikhtiarnya, merasa bahwa dengan ikhtiar yang maksimal akan
mendatangkan hasil yang maksimal juga. Benar, kemampuan matematika manusia akan
selalu meleset. Manusia selalu ingin balasan yang terlihat. Padahal jika kita
tulus ikhtiar karena kita sadar bahwa ikhtiar adalah salah satu perintah Allah
pada hamba-Nya untuk bisa menjemput hasil yang lebih baik, Allah akan
menghadiahkan lebih dari apa yang kita bayangkan. Ya, pahala amal sholeh. insyaAllah..
Aku selalu ingat vitamin
kata-kata yang guru ku bilang. “KUAT ATAU TIDAKNYA MANUSIA TERGANTUNG PADA
SANDARANNYA”. Manusia adalah selemah-lemahnya makhluk. Untuk menjadi kuat maka
kita harus bergantung dan bersandar pada yang MAHA KUAT.