Senin, 02 September 2019

Berubah


Malam. Waktu yang paling tepat untuk berdialog dengan diri sendiri. Setelah seharian penuh pikiran dan fisik mengeluarkan energi untuk berjuang dalam kehidupan ini.
Sebenarnya aku selalu lebih leluasa mengungkapkan isi hati lewat pulpen yang beradu dengan selembar kertas kosong. Aku merasa diri ini bisa lebih jujur bahkan terkadang emosi yang tidak dirasakan sebelumnya tiba-tiba tertumpahkan saat pena itu menggariskan kata demi kata.
Aku baru menemukan lagi aku yang dulu. Aku yang dulu hampir setiap hari tak pernah absen menulis ceritaku di dalam sebuah diary. Aku merasa ketika aku menulis setiap kisah hidupku, aku merasa lebih hidup. Artinya tidak ada setiap detik kehidupanku yang tidak berkesan. Mau itu kesan baik atau buruk, setidaknya aku merasakan bahwa aku adalah pemeran utama dalam hidupku sendiri. Dan hal itu membuatku jauh lebih berarti.
Aku mencoba merangkai “aku yang dulu”. Seringkali aku terdiam, memikirkan apa yang hilang dari diriku. Ternyata jika direnungkan begitu, aku merasa makin banyak yang hilang dalam diriku. Salah satunya, hobi menulisku.
Ah, bukan puitis. Namun entah kenapa aku sulit sekali melepas gaya Bahasa menulisku yang seperti ini. Padahal jika di dunia nyata Bahasa ku biasa-biasa saja, tidak melulu formal seperti ini. Bagaimana Bahasa-ku di diary ku sendiri? Tentu tidak selalu seformal ini juga. Jadi, semoga pembaca bisa menikmati gaya bahasaku yang seperti ini yaa. Hehe
Waktu berjalan. Tapi kadang aku merasa sedang berada di sebuah video yang sedang di “pause” alias aku merasa aku tidak pernah pergi kemana-mana, merasa masih tetap di frame yang sama. Jika melihat banyak teman-temanku di luar sana yang punya kehidupan begitu dinamis. Ada yang sudah pindah kerja keluar kota, dinas ke luar provinsi setiap minggunya, ada yang sudah menikah, ada yang sudah punya anak, ada yang melanjutkan studinya ke jenjang S2. Yah! Sudah sampai sana saja aku melihat kehidupan mereka, jangan sampai kejauhan.
Tidak. Bukan sedang putus asa. Ingin tertawa saja melihat apa yang banyak terjadi di dunia ini. Seseorang tak mungkin sama dari waktu ke waktu. Perubahan itu pasti ada. Kalau sedang merenung menenangkan diri, terkadang pikiranku jauh menembus waktu. Bagaimana  jadinya jika kelak semua keponakanku nanti sudah beranjak dewasa, ada yang sudah masuk Sekolah Menengah Atas bahkan kuliah. Yah.. tidak ada lagi wajah-wajah lucu yang selalu ku update di status karena tingkahnya yang menggemaskan. Bagaimana nanti jika aku dan sahabat-sahabatku sudah saling berkeluarga dan punya anak-anak yang lucu? Membayangkan itu kadang membuatku Bahagia sekaligus sedih.
Satu hal yang tak akan pernah berubah di dunia ini adalah perubahan itu sendiri” Kata Dosenku yang sangat disegani oleh para mahasiswanya karena kecerdasannya plus ketegasannya. Pak Setya. Kata-kata itu menyadarkanku bahwa bagaimanapun keadaan mental kita, siap atau tidak siap kita harus bia menerima perubahan yang ada. Aku mulai terbiasa dengan kejutan-kejutan di dalam hidupku. Karena aku yakin semua sudah dituliskan-Nya dengan rapih. Perubahan tak selalu berada di luar kendali kita. Perubahan dalam diri, itu ada dalam genggaman kendali kita. Semua orang pasti berubah. Tak selamanya keadaan yang membuat semua orang berubah, tapi diri setiap orang juga yang menghendaki dan mengendalikan perubahan dalam dirinya.
Jangan menjadi orang yang hanya menonton perubahan orang lain. Jangan juga malah menjadi komentator perubahan orang lain. Ubahlah dirimu dengan caramu sendiri. Ubahlah dengan cara yang baik dan ke arah yang lebih baik pula. Agar suatu saat nanti, yang menjadi penonton di kehidupanmu bilang “waw… kamu benar-benar berubah” dengan senyuman penuh kekaguman.
Jika hari ini kamu merasa payah, masih ada kuasamu untuk merubah citra diri. Jika hari ini kamu merasa lemah, kamu masih punya kekuatan untuk membuat dirimu tegap dan lebih kuat lagi. Jika hari ini kamu merasa bodoh, kamu masih punya kendali untuk melatih dirimu menjadi pintar. Jadi.. jangan pernah merasa tertingal. Tapi buatlah dirimu merasa bahwa kamu terus berlari.


Selasa, 30 Oktober 2018

Memori yang Bersinar


Kelap kelip lampu Kota diiringi alunan romantis angin yang bertiup syahdu.  Kapas yang bergerombol menutupi sang Bulan membuatku terpana, sinar bulan terlihat sangat mempesona walau tak seterang tanpa awan hitam. membuat mataku  terperangkap dalam keindahan ciptaan-Nya. Entah mengapa tiba-tiba ada yang menggelitiki hatiku dan menyambung memori pada masa lalu yang sudah lama terlupakan. Tak lama dari itu aku menyadari, ternyata aku sudah beranjak dewasa. Roda hidup ini benar-benar berputar tanpa terasa. Revolusi semesta benar-benar nyata.

Kini kucoba pejamkan mata dan berkonsentrasi dalam khayalan yang perlahan menembus ruang dan waktu. Seketika sekitarku berubah pada keadaan lima belas tahun yang lalu, saat Naufa kecil menangis histeris kala ibunya melarangnya untuk bebas bermain di luar rumah. Pagar rumah pun sengaja digembok agar aku tidak bisa keluar bermain bersama teman-teman yang setiap hari selalu membuatku iri dengan kebersamaan mereka di taman bermain tepat di depan rumahku. Mereka tak berani mengajakku bermain karena tahu ibuku pasti akan melarangku. Ya, sudah tentu ibuku punya alasan kuat untuk memperlakukanku seperti itu. Aku adalah anak kecil yang nakal kala itu, selalu lupa waktu bila sudah asyik bermain dengan teman-temanku sampai-sampai dulu pernah aku bermain jauh, ibuku sangat khawatir hingga ia melaporkan kehilanganku pada Ketua RT setempat. Aku sama sekali tak menyadari itu kala ibuku bilang “Kamu itu kemana aja? Udah dicari-cari kemana-mana. Jangan main jauh-jauh! Ngga denger barusan namamu disebut-sebut di speaker Mesjid?”. Aku yang saat itu masih kecil dan hanya mampu mengartikan omelan ibuku adalah amarah dan rasa benci padaku, akhirnya aku menangis kencang dan tak peduli banyak warga yang memperhatikanku. Namun kini, rasanya senyumku sulit lepas dari ingatan masa lalu yang lucu itu.

Dan lagi, tak hanya sampai situ ulah si Naufa kecil yang nakal. Pernah pada saat usia 7 tahun, Aku diajak oleh teman-temanku bermain di sawah yang jaraknya lumayan jauh dari rumahku. Disana kami benar-benar menikmati kebebasan bermain. Naik kerbau, saling mendorong ke lumpur hingga akhirnya baju kami semua berubah warna menjadi coklat kehitaman. Anehnya aku yang biasanya takut untuk berulah dan berurusan dengan amarah ibuku saat itu tak memikirkan amarah ibuku nantinya setelah melihat kelakuan nakalku yang benar-benar menggemaskan itu. Benar saja, sesampainya di rumah aku habis-habisan dimarahi oleh ibuku bahkan sampai diguyur satu jolang air dingin. Tak dipungkiri, tangisanku meledak saat itu. Aku benar-benar takut air dingin, sangat takut, suasana kali itu benar-benar mencekam ditambah dengan melihat tatapan melotot ibuku yang tak henti-henti mengomeli diriku yang nakal itu.

Masih banyak kenakalan konyol yang dulu Naufa kecil lakukan, berenang di Bak mandi yang ukurannya hanya 1 x 1 meter, menusuk tangan temanku menggunakan pulpen hingga berdarah, menangis kencang pada saat aku ditinggal ibuku mengaji di rumah sendirian, mencibir kakakku di depan teman-temanku sampai akhirnya kembali aku diguyur dengan satu gayung air dingin pada saat duduk di sofa teras rumah, disusuli ibuku ketika aku berangkat mengaji tanpa mandi terlebih dahulu,  dan hal konyol lainnya. Semua benar-benar masih terekam indah dalam memori ini, Aku tak henti-hentinya bergumam, andai aku bisa kembali pada masa lalu tanpa beban yang saat ini menuntutku.

Lalu bagaimana nasib sahabat-sahabat masa kecilku sekarang? Sebagian dari kita telah melepas masa lajangnya bahkan sudah memiliki anak yang sudah masuk taman kanak-kanak, sebagian lagi kerja dan tanpa kabar. Kini kita semua memiliki kehidupan masing-masing. Apakah mereka masih ingat?

Masih ingatkah mereka kala kita benar-benar menjadi makhluk polos yang suara tawanya menggema di sepanjang gang tempat bermain? Petak umpet, lompat tali, aanyangan, kucing-kucingan, berburu lalat (hahaha), dan momen lain yang sudah jarang kita temui di zaman sekarang ini.

Masih ingatkah ketika dengan semangatnya kita teriakkan cita-cita kita dengan sekencang-kencangnya saat ibu guru bilang “Cita-cita kamu jadi apa?”, dengan lantang semua murid beradu menjawab “Dokter!”, “Polisi!”, “Tentara!”, “Guru”, “Insinyur!”.

Masih ingatkah ketika kita semangat bangun pagi tanpa menghiraukan rasa kantuk untuk pergi ke Sekolah dan bermain dengan teman-teman di Sekolah? Bersemangat walau uang jajan yang diberi hanya sedikit, yang penting bisa pergi ke Sekolah. Sangat menyayangkan hari jika tak masuk Sekolah kala itu. Walau di Sekolah kita malah lebih sering belajar mengejek sesama teman dengan panggilan nama ayahnya. Namun tak cukup sampai situ semangat kita masih membara, bahkan sepulang sekolah pukul 17:00 walaupun sangat lelah kita langsung bergegas mengaji ke masjid. Sungguh tak kenal lelah.
Sampai sekarang aku masih bingung, kemana semangat itu pergi? Apakah karena faktor usia hingga kita lupa bahwa sejak dari dulu kita punya impian yang seharusnya diimplementasikan pada saat ini? Ya. Usia sekarang. Kau ingat?

Kini aku sudah beranjak memasuki usia kepala dua. Sudah terbiasa dengan beban pikiran dan stress karena tuntutan lain, organisasi, perkuliahan, dan pengabdian. Seharusnya semangat untuk meraih mimpi semakin membara dibandingkan semangat si Naufa kecil dulu, karena, menginjak usia ini itu tandanya (seharusnya) kita lebih dekat dengan pintu peraihan mimpi.

Ini adalah waktu pembuktian dimana langkah kaki kita sejak kecil hingga sekarang adalah sebuah tahapan. bukan jalan hidup yang mengalir dan pasrah. Seharusnya kita sudah sampai ke tepian dan menuai kelapa segar di pinggir pantai. Namun ntah apa yang membuat perahu itu terombang-ambing hingga sampai sekarang kita masih jauh dari tepi laut. Maka, mendayunglah sehebat mungkin, semangatlah, mungkin usia kita tak akan lama. Jangan sampai mati di tengah perjalanan tanpa menorehkan sedikitpun prestasi yang tergenggam. Semangat!!! Inilah saatnya.

Tulisan ini hanya mengungkap segelintir memori yang bisa dijadikan pelajaran hidup untuk tidak meyia-nyiakan waktu yang ada. Untuk menyadarkan bahwa rasa malas itu seharusnya tak boleh ada dalam kamus kehidupan ini. Karena kita sudah terlanjur jauh hingga usia sekarang. “Kau boleh lelah. Tapi jangan berhenti, dayunglah dengan pelan, tak usah tergesa-gesa, yang penting kau maju ke depan walau sedikit”.

Tulisan ini terkhusus untuk menampar diriku sendiri yang tak boleh lengah (lagi), yang harus menggenggam mimpi yang sempat terlupakan, dan yang harus melangkah kuat untuk kebermanfaatan khususnya teruntuk diriku, dan keluargaku, umumnya untuk agama ini. Dan semuanya adalah untuk Allah. Ya, agar Allah Ridho dan mencintaiku,..

-Bandung, 5 Desember 2017, tertulis di ruang kelas Fakulltas yang kosong-

Senin, 29 Oktober 2018

Surat untuk Sang Pejuang


Kata pertama yang ingin aku sampaikan adalah.. MAAF
Maaf jika aku selalu menganggapmu tak ada.
Maaf bila kehadiranmu disadari hanya ketika kau melakukan kesalahan.
Maaf jika kehadiranmu selalu ku caci
Maaf jika hatimu terkadang sengaja kusakiti
Maaf jika dirimu sengaja ku tenggelamkan dalam kebahagiaan yang palsu
Maaf jika aku terlalu keras dan egois terhadapmu
Maaf jika dirimu selalu kuabaikan dan tak pernah kupedulikan
Maaf jika aku selalu membuatmu tampak bodoh
Maaf jika aku selalu terdiam saat kau benar-benar kesakitan karena tersakiti
Maaf jika dirimu selalu kupaksa untuk melakukan sesuatu yang ujungnya akan membuatmu menderita
Maaf jika aku selalu membuatmu menangis
Maaf jika tak sedikitpun kata TERIMA KASIH kuucapkan atas semua perjuangan dan pengorbananmu yang begitu besar.

Kini aku benar-benar ingin selalu merasakan kehadiranmu yang sangat amat berarti.
Tanpamu aku tak pernah hidup. Tanpamu aku tak akan melangkah sejauh ini.

Terimakasih untuk selalu menemani setiap langkah suka dan duka ku.
Terimakasih atas kerjasama mu yang hebat
Terimakasih atas ketegasan-ketegasanmu yang selalu menyelamatkanku
Terimakasih atas sikapmu yang berani untuk melangkah dan membantuku perlahan keluar dari zona nyaman dengan penuh susah payah
Terimakasih untukmu yang selalu berniat untuk berubah menjadi lebih baik
Terimakasih karena kau selalu menemani dan membantuku untuk selalu belajar arti kehidupan
Terimakasih atas prestasi yang pernah kau ukir dan membuatku bangga sampai saat ini
Terimakasih untukmu yang selalu sabar menghadapiku yang masih sangat labil dalam menghadapi situasi kehidupan
Terimakasih karena kau selalu mencoba memahami diriku
Terimakasih selalu menjadi alarm pengingatku
Terimakasih untukmu, Dan rasa Syukur yang ingin selalu kupanjatkan pada-Nya dalam situasi apapun
Mudah-mudahan kau bisa menerima permintaan maafku yang tulus ini. Karena aku menulisnya dengan penuh penyesalan dan juga dengan penuh harap untuk tidak melakukannya lagi.
Mungkin rasa maafku sudah sedikit terwakilkan dengan beberapa paragrap yang penuh arti ini. Namun sungguh, rasa Terimakasihku belum sepenuhnya terwakili sampai aku dapat memastikan bahwa dirimu akan BAHAGIA dan tersenyum kembali ketika mendapatkan kata TERIMA KASIH dariku ini.

Teruntuk dirimu, yang sedang mengetik kata-demi-kata di lembaran ini.
Teruntuk dirimu, yang selalu mencoba bangkit dari kesalahan-kesalahan yang membuatmu menyesal
Teruntuk dirimu, yang selalu ingin mencoba mencintai diri sendiri.
Teruntuk dirimu, yang air matanya tulus
Teruntuk dirimu. Aku menyayangimu. Aku mencintaimu. Aku membutuhkanmu.


Aku akan selalu menghargai setiap keputusan dan perjuanganmu.
Aku tak pernah ingin mengabaikanmu (lagi)
Aku akan selalu berusaha untuk kebahagiaanmu.
Ya.. dirimu. NOVALINA NUR AZIZAH

-Bandung, 29 Oktober 2018-
Dari: Kata hati



Jumat, 13 April 2018

Tentang Sebuah Rumah


Aku seolah terlempar jauh dari rumahku yang dulu. Rumah yang membuatku nyaman, hangat dan bebas menjadi diriku sendiri.
Namun suatu hari, ada yang membawaku terlalu lama bermain di luar rumah hingga untuk ingin pulang ke rumah pun rasanya sangat jauh, Bahkan aku lupa alamat rumahku sendiri. Aku butuh orang yang mengantarku pulang ke rumah dengan aman.

Kukira orang yang mengajakku bermain ke luar rumah akan mengantarkan aku pulang ke rumah, namun nyatanya ia malah semakin membawaku jauh dari rumah. Tempat tinggalku. Ia seolah menjanjikan rumah yang lebih indah yang akan temui nanti, namun nyatanya harapan menemukan rumah yang jauh lebih indah dan lebih baik itu tak juga berujung. Sampai di tengah jalan aku merasa, yang keluar dari mulutnya hanya omong kosong.

Setelah lama aku bersabar, akhirnya ia bisa menjawab keraguanku. Ia mengantarkanku pada sebuah rumah yang indah dan nyaman. Bahkan lebih indah dari rumahku yang dulu. Rumah itu wangi, terang dan mempesona. Indah sekali. Aku sangat betah dan tak mau keluar.

Namun setelah sekian lama aku mendiami rumah itu, sedikit demi sedikit aku mulai merasakan ketidak nyamanan. Orang itu membawa semakin banyak tamu ke rumahnya. Rupanya ia juga ingin orang lain melihat keindahan rumahnya. Alhasil, para tamunya itupun sama, merasakan kenyamanan seperti apa yang aku rasakan saat pertama kali diajak untuk tinggal di rumah itu.

Lama kelamaan aku merasa kecewa. Ku kira hanya aku yang akan menempati rumah indah itu. Ternyata salah, ia merasa tak puas jika hanya satu orang saja yang melihat keindahannya. Alhasil, rumah yang luas, indah dan nyaman itu perlahan menjadi tempat yang sempit, gelap dan pengap untukku. Aku ingin sekali keluar. Aku tak suka dengan tempat yang sempit. Aku tak suka dengan tempat yang ramai. Aku tak suka bila aku diacuhkan oleh tuan rumah yang sibuk menjamu tamunya yang lain. Aku harus pergi.

Namun apa yang terjadi? Sulit sekali menemukan pintu keluarnya. Sekali aku menemukan sebuah pintu, seolah pintu itu terkunci rapat. Rupanya tuan rumah tak ingin aku pergi meninggalkan rumah itu. Katanya aku adalah tamu yang paling spesial.
Aku kembali mengurungkan niat untuk keluar dari rumah itu, dan mencoba untuk lebih sabar menikmati keindahan rumah itu lebih lama. Tuan rumah kembali menjamu ku dengan hidangan yang lezat hingga aku tak lagi berpikir ingin keluar dari rumah itu.

Lagi-lagi aku kecewa. Ternyata tamu lain pun dijamu dengan spesial olehnya. Bahkan hidangannya lebih banyak dan lezat. Sehingga tamu lain semakin betah di dalam rumah itu.
Aku semakin muak dengan tempat yang sempit itu. Aku seolah dihiraukan begitu saja oleh tuan rumah. Aku merindukan rumahku yang dulu. Walau kecil namun rumahku lebih nyaman dan tidak sempit seperti rumah si tuan rumah itu.
Keesokan harinya aku memutuskan untuk benar-benar pergi. Aku ingin pulang. Kucoba mendekati pintu keluar. Karena aku benar-benar sudah tak betah, walaupun pintu itu terkunci rapat akan kudobrak sekuat tenaga. Biarlah tulangku remuk asalkan aku bisa keluar dari rumah itu dan tak ingin kembali lagi.

Namun kembali tuan rumah membujukku untuk tetap tinggal dan meminta maaf atas segala kesalahannya menghiraukanku. Ingin rasanya aku  berteriak di depan si tuan rumah. Apadaya, aku hanya mampu Teriak di dalam hati. “Hentikan! Tolong hentikan bujukkanmu! Aku benar-benar ingin pulang..” walau memang berat meninggalkan rumah seindah itu, aku harus benar-benar tegas untuk pulang sebelum rumah ini semakin penuh.

Kamis, 01 Maret 2018

Makhluk Pencari Makna

MAKHLUK PENCARI MAKNA

Seseorang tidak bisa menjadi PENULIS yang baik, tanpa menjadi PEMBACA yang baik
Seseorang tidak bisa menjadi PEMBICARA yang baik, tanpa menjadi PENDENGAR yang baik
Seseorang tidak bisa menjadi GURU yang baik, tanpa menjadi PEMBELAJAR yang baik

Makhluk pencari makna.. izinkan aku pinjam istilah ini dari seorang penyiar Radio yang menginspirasi di pagi hari. Walau afwan, saya tidak tahu namanya. Hehe.. semoga Allah memberikan keberkahan bagi hidupmu.

Jika benar dirimu makhluk pencari makna itu, seberapa banyak makna hidup yang telah dirimu dapatkan selama nafasmu masih berhembus tenang hingga saat ini?
Atau malah kita hanyalah “makhluk penumpang” atau “makhluk yang tidak diharapkan” oleh bumi untuk menginjakkan kaki di tubuhnya?

Bukanlah hal mudah untuk mencari setiap makna cinta dari-Nya dalam setiap detik hidup ini. Perlu jiwa yang kuat dan lapang untuk menerima segala maksud baik Allah, perlu otak cerdas yang bersinergi dengan hati untuk menerjemahkan semua peringatan lembut yang Allah tunjukkan. Sadarkah bahwa Setiap makna hidup yang ingin Allah ajarkan merupakan jawaban dari setiap do’a kita? Bukankah kita selalu mengucapkan dengan lirih “ihdinashiroothol mustaqiem”? ya.. Tunjukilah kami jalan yang lurus. Do’a yang selalu kita bacakan di setiap Sholat maupun di luar sholat. Allah selalu menjawab, Allah selalu mengabulkan permintaan kita yang satu itu. Tinggal kita membuka hati, pergunakan pikiran dan segala potensi kita untuk memahami apa yang diinginkan Allah terhadap kita.

Bagaimana kita bisa mengambil hikmah dari setiap keadaan
Bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari setiap kesalahan diri
Bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari setiap keadaan dan kesalahan orang lain

Dan.. bukan pula hal yang sulit untuk mencari makna cinta dari-Nya. Lihat! Renungkanlah, makna itu bertebaran dimana-mana. Ambilah! Karena makna kasih sayang Allah itu tak pernah habis. Tak lain untuk membuat kita menjadi sebaik-baik manusia yang diinginkan oleh Allah.

Untuk apa Allah memberikanmu kemampuan menulis?
Untuk apa Allah memberikanmu kemampuan berbicara?
Untuk apa Allah memberikanmu kecerdasan dan kecepatan berpikir?
Untuk apa Allah memberikan segala kemampuan yang ada dalam diri kita kalau bukan untuk memaknai cinta dari-Nya dan memanfaatkan segala kemampuan yang dimiliki untuk jalan kebaikan.
Bacalah dengan hati, setiap pesan cinta dari Allah dengan husnudzon

Dengarlah setiap pesan kebaikan yang Allah turunkan pada siapapun sebagai perantara kebaikan untuk perbaikan dirimu
Pelajarilah setiap pelajaran hidup yang Allah berikan lewat setiap keadaan
Maka kita akan bisa menjadi manusia seutuhnya seperti apa yang Allah inginkan.
Semoga Allah selalu memberikan kehidupan yang berkah bagi kita semua. Kehidupan yang tiada sia-sia tanpa sebuah pemaknaan baik yang sempurna.

Jumat, 19 Januari 2018

Potret Makna

Aku hampir tidak bisa menghitung berapa ribu kali langkah kakiku berjalan. Dari pagi hingga ba’da isya aku menelusuri setiap jalan yang aku yakini sebagai tempat pembelajaran hidup. Ada rasa tenang, hangat dan nyaman ketika aku bertemu orang-orang baru yang dihadirkan dihidupku disetiap harinya. Itu artinya, aku bisa banyak menemukan senyuman yang beragam dari orang yang berbeda-beda. Kau tahu rasanya? Ya tentu aku bahagia. Kebahagiaan sederhana yang tak bisa terukur oleh orang lain secara fisik, namun dapat dirasakan kenikmatannya oleh orang yang bersyukur dan terenyuh oleh kasih sayang Sang Penyayang.

Ketika gelap mulai menutup cahaya senja. Aku masih bergabung dengan para penumpang angkutan umum dengan segmentasi penumpang yang berbeda-beda. Dimulai dari ibu-ibu, wanita kantoran, hingga tiga gadis belia yang tengah asyik berbincang seputar kegiatan sekolahnya. Aku tak bisa menutup telinga untuk mendengar percakapan diantara ketiga gadis belia itu. Gadis yang duduk disebelahku nampaknya terlihat sedikit murung dan tak lama ia membuka pembicaraan dengan tema baru. Dia kehilangan sejumlah uangnya dan memikirkan utang-utangnya pada teman-temannya yang masih belum terbayar. “masih remaja, pikirannya sudah seberat orang dewasa memikirkan utang” gelitikku dalam hati, dan tak lama setelah itu, sementara aku sibuk memasang headset-ku ke handphone tiba-tiba pembicaraan mereka mulai beralih ke topik “si guru ganteng”, sampai-sampai mereka mengaku-ngaku “dia (guru ganteng) pacar aku”, “bebep aku”, begitu katanya. Kau tahu? itu percakapan yang sungguh membuatku geli, aneh, muak, dan miris. Portret remaja zaman sekarang. Ada apa dengan krisis rasa malu mereka? Walaupun itu hanya candaan tapi rasanya tidak etis saja terdengar oleh orang-orang dewasa yang mungkin pada saat itu ingin menggelengkan kepalanya karena ikutan miris.

Setelah turun dari angkutan umum, suasana maghrib dengan diiringi lantunan indah sang Muadzin yang beradu indah antara speaker mesjid yang satu dengan yang lain meramaikan perjalananku yang tengah sendiri. Menelusuri  jalan besar yang ramai kendaraan berlalu lalang. Langit berubah menjadi biru sendu. Aku langsung mematikan mp3 player –ku karena adzan sudah mulai berkumandang. Tas ku yang cukup berat membuat aku ingin segera sampai pada tempat tujuan, Mesjid.

Tepat pada saat semua jamaah masjid selesai menunaikan sholat maghrib berjamaah, seperti biasa aku melangkahkan kaki menaiki anak tangga Mesjid. Satu anak laki-laki ramaja dengan baju koko merah yang sering ia pakai dengan bawahan sarung, berjalan gontai dan pelan tepat dihadapanku. “Kok jalannya begitu? Abis disunat?” Guyon ku pada anak didikku yang cukup aktif hadir ke Mesjid itu. Ternyata kakinya terkilir. Namun luar biasanya (menurutku), walau kakinya sakit, ia tetap melangkahkan kaki ke masjid.

Seperti biasa kami semua berbincang-bincang di lantai dua Mesjid. Aku, rekanku, dan ke-enam anak didikku duduk melingkar. Sesekali melempar canda dan tawa yang tanpa sadar volume suara kita mengganggu bapak-bapak yang mungkin sedang asyik tadarus Al-Qur’an. Sesekali kami pun ditegur untuk mengatur volume suara. Hafalan surat Al-mulk terdengar indah menyentuh hati kala kami mencoba menghafalnya bersama-sama. Memori yang indah..

City lights terlihat sangat cantik dari jendela lantai dua masjid yang menghadapkan wajahnya pada pemandangan kota malam. Angin dingin yang mencoba menyapa dengan lembut keroyokan menghampiri lewat celah jendela yang kubuka. Adzan isya yang syahdu terasa menggema hingga ke langit. Suara yang mendamaikan..

Seusai sholat isya berjamaah, aku menghampiri Ibu Pur untuk mencium tangannya. Dan seperti biasa ia selalu mengajakku berbincang. Selalu ada atmosfir nyaman dan suasana hangat seorang ibu yang hadir dalam sosok Ibu Pur ini. Ia lalu menyentuh wajahku dan berkata “Neng sehat? Kok mukanya merah gitu?”, “masa sih bu? Oh iya mungkin kecapean aja hehe” Jawabku. seperti biasa ia selalu menanyakan “Tema hari ini apa?” (beliau menanyakan kegiatan mengaji remaja hari ini). “Oh sekarang sih lagi nyoba hafalan surat Al-Mulk bu”. “Oh pantesan tadi dari rumah ibu denger sayup-sayup bacaan Qur’an, ternyata lagi menghafal ya..”. ya, ruumahnya tepat ada di sebelah Mesjid, berdempetan.

Tak lama setelah perbincangan hangatku dengan Ibu Pur, kedua rekanku bergabung dengan obrolan kami. Cukup banyak Ibu Pur bercerita, yang isinya tidak jauh dari kajian islam secara tidak langsung. Ada yang menarik perhatianku sampai aku dan rekan (guru mengajiku) meneteskan air mata. Ibu Sur bercerita tentang sosok Almarhumah ibu dari guru ngajiku itu. Ia menceritakan kesan-kesannya mengenal almarhumah, ia bercerita pula, pernah anaknya menangis dan bilang padanya “Bu, ibu baik yang selalu memberikan aku uang dan permen sudah tidak ada (meninggal)” ya, yang dimaksud adalah ibu dari guru mengajiku yang akhlaknya masih dikenang hingga sekarang, kebaikan kecil yang menempel indah nan kuat dibenak anak Ibu Pur. masyaAllah.. kebaikan sekecil apapun ketika kita meninggal masih akan selalu terekam indah..

Banyak yang aku pelajari dari sosok Ibu Pur itu. Nasehatnya selalu teringat sampai sekarang, bahkan do’a-do’a yang dilontarkannya untukku. Ntah rasanya aku ingin tertawa geli dan bahagia saja ketika mengingat beliau pernah memberiku kajian tentang “Cinta” sampai beliau bercerita mengenai masa lalu indah ketika bertemu dan dilamar oleh suaminya sekarang. Lagi-lagi aku menemukan guru terbaik dalam hidupku. Alhamdulillah…

Di Mesjid itu banyak kenangan yang belum pernah terlupakan hingga sekarang, dari awal berdirinya aku mengikuti  metamorfosa Mesjid itu. Dari TK hingga menjadi mahasiswi semester 8 seperti sekarang, masjid itu masih kokoh berdiri bahkan makin banyak jamaahnya. Aku benar-benar menemukan rumah baru yang sangat indah dan nyaman. Aku bahagia, aku bersyukur. Allah memilihku untuk menjalani takdir yang kuhadapi saat ini. Banyak takdir yang tak mudah dijalani, namun disisi lain hadiah Allah akan setara atau bahkan melebihi beban yang ia turunkan sebagai ujian padaku. Ya Allah.. izinkan aku terus dalam agama-Mu dan tetap terus mencintai-Mu.. anugerah luar biasa.. 


Manusia seutuhnya?

Kali ini, izinkan aku untuk menuliskan hal-hal yang aku takutkan berharap, setelah menulis ini kenyataan tak sebesar kehawatiranku Akhir-akh...